Social Media


0

Influencer dan Social Media RC

May 09, 2010 / by / 10 Comments

Beberapa bulan ini, salah satu (dua dan tiga) kerjaan saya adalah sebagai tukang jaga account social media beberapa brand. Ada yang satu team, ada yang ngerjain sendiri. Dari pengalaman ini, saya jadi punya beberapa catatan penting. Mencari pemegang account brand yang tugasnya di belakang layar itu tidak sesimple mencari influencer (walaupun mencari influencer sebenernya juga gak simple sih). Tapi setidaknya di luar sana udah banyak dibahas bagaimana kriteria seorang influencer untuk suatu brand. Mencari influencer mungkin bisa aja dilihat dari jumlah followernya, seberapa seleb dia, apakah aktivitasnya nyambung dengan champaign brand, dsb –walaupun kriteria tersebut sebenarnya belum seratuspersen untuk mencari influencer yang tepat. So, kita singkat aja kerjaan ini dengan nama social media response center atau SMRC ya (habis gak ngerti sebutannya apa yg tepat). Lalu, gimana cara mencari personel SMRC yang tepat (jika tidak dipegang langsung oleh pihak brand)? Saya juga belum tahu banyak, tapi setidaknya inilah catatan penting saya. Tidak semua influencer bisa jadi SMRC. Sayangnya, beberapa brand (atau agency-nya) kadang gak tau lagi harus mempekerjakan siapa untuk jadi SMRC. Hasilnya, yang dipilih adalah user-user yang sudah lumayan ngetop yang biasanya diendorse atau jadi influencer. Dipikir kalau sudah terkenal dan sering diendorse bakalan ngerti bagaimana harus ‘pegang’ brand […]

READ MORE

0

Situs E-commerce di Indonesia

March 23, 2010 / by / 24 Comments

Tweet saya pagi ini: Gara2 @anakcerdas tempo hari nyebut2 #plasadotcom, jd mo nyoba apa akunku masih ada.. TAPI aku lupa pake username apa di plasa.com itu -_- Buat yang tahun 2000-an awal udah lahir dan kenal internet, pasti masih inget deh dengan Plasa.com yang waktu itu beberapa layanannya adalah email dan komunitas online. Lalu saya coba tanya beberapa teman, ternyata sebagian besar lupa username dan password apa yang dulu dipakainya di sana. Begitu juga dengan saya! Jelas aja, itu udah lama banget.. Tapi setelah baca postingan Ndoro tentang terobosan Plasa.com yang baru, yang akan dilaunching 27 Maret nanti, saya jadi penasaran dan mulai browsing ke situs itu. Ternyata udah beda banget, yang sekarang ini jadi sebuah situs e-commerce. Nah kalo bicara situs e-commerce, pasti yang kebayang duluan adalah Amazon dan E-bay. Di buku Connect-nya HK, situs seperti itu bisa juga disebut konektor, karena sebenarnya hanya memfasilitasi transaksi secara horisontal, antara penjual dan pembeli.

READ MORE

0

Asiknya Bergabung dengan Situs-situs Vertikal 2.0 Itu..

March 23, 2010 / by / 11 Comments

Sudah sebulan lebih jarang posting dan jarang blogwalking. Selain karena banyak kerjaan, juga karena lagi asyik di twitter dan asyik nimbrung di beberapa situs vertikal, seperti Curipandang, Langsungenak, juga Ngerumpi. Situs vertikal sendiri pengertian gampangnya yaitu situs yang membahas satu kategori/topik saja (niche). Dan kini yang lebih menarik adalah yg berbasis web 2.0 (user generated content), dimana isi dari situs tersebut merupakan tulisan dari setiap membernya. Jadi gaya tulisannya juga macem-macem tiap tulisan karena penulisnya berbeda. Memangnya, apa keuntungannya join di situs-situs seperti itu? Jelas banyak! Yang klise nih: nambah temen, juga nambah info & sudut pandang berbeda dr opini masing-masing penulis. Keasikan atau keuntungan lain: sering bisa ikut berbagai event plus gratisan 😀 Events berikut ini contohnya.

READ MORE

0

New Wave Marketing, Semua Serba Horisontal

November 25, 2009 / by / 27 Comments

New Wave Marketing. Istilah itu sudah sering saya dengar sejak tahun lalu, sejak Hermawan Kartajaya diundang dalam sebuah talkshow di televisi dan beliau menjelaskan tentang gelombang baru di dunia marketing ini. Saya tidak ingat benar detail acaranya, tapi yang saya ingat beliau menjelaskan tentang bagaimana sebuah bisnis akan bisa bertahan di tahun-tahun mendatang. Tentunya bisnis tersebut harus mampu mengikuti perkembangan –salah satunya- dunia marketing. Seperti yang kita tahu, model marketing konvensional masih bersifat one-to-many, yang sifatnya monolog atau searah, dan menempatkan konsumen atau pelanggan sebagai target. Lalu dalam perkembangannya, dunia marketing mulai menerapkan strategi one-to-one, yaitu dengan personalization ataupun customization, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing konsumen secara spesifik. Misalnya, dengan memberi rekomendasi pada produk-produk yang sesuai dengan preferensi atau behavior konsumen, atau membuat produk custom-made sesuai permintaan konsumen. Strategi ini membutuhkan resource dan dana yang cukup (besar) jika ingin benar-benar meng-cover seluruh konsumen, dengan database yang cukup kompleks. Tapi, database is not a community. We must have interaction.

READ MORE