Sun, April 6, 2008 | On: Buku, Film, & Musik
Aku jarang sekali tertarik nonton film musikal, malas karena biasanya membosankan. Apalagi kalau lagu-lagunya sulit dicerna. Meskipun overall ceritanya cenderung simpel, tapi detail film Music and Lyrics (2007) ini berhasil membuatku nonton tanpa putus dan tidak bosan. Selain itu, ini juga genre-ku banget: romantic-comedy…
A melody is like seeing someone for the first time. The physical attraction. Sex.
But then, as you get to know the person, that’s the lyrics. Their story. Who they are underneath. It’s the combination of the two that makes it magical.
— Sophie Fisher
Film Music and Lyrics ini menceritakan tentang si Alex Fetcher (Hugh Grant) yang seorang vokalis dari grup band Pop yang ngetop di era 80-an, yang karirnya semakin tenggelam dalam persaingan dengan penyanyi/band2 baru yang bermunculan. Suatu saat, dia mendapat sebuah challenge untuk membuatkan lirik lagu bagi si Cora Corman (Haley Bennett) -bintang muda yg lagi bersinar-, dengan judul lagu Way Back into Love. Karena si Alex ini sudah tidak pernah lagi menulis lirik, jadi dia kesulitan. Tapi ini satu-satunya jalannya agar bisa tetep eksis!
Akhirnya Alex tertolong oleh Sophie Fisher (Drew Barrymore) -si pekerja penyiram tumbuhan yang baru di apartemennya- yang ternyata punya bakat mengarang (lirik?). Setelah melewati berbagai step dan kisah, akhirnya jadi juga itu lirik, dan Cora-pun merasa cocok dengan lagu dari mereka itu.
Singkat cerita, terjalinlah hubungan asmara antara Alex dan Sophie -tentu itu gampang ditebak untuk genre seperti ini. Tapi banyak kisah simpel yang dipaparkan dengan apik di film ini. Ada cerita Cora yang berusaha mengganti melody lagu Way Back Into Love itu tapi Sophie tidak setuju. Ada cerita ketidakpercayaandiri si Sophie akan kemampuannya sendiri. Ada cerita tentang hubungan masa lalu Sophie dengan seorang pria, yang akhirnya tanpa sengaja bertemu lagi di sebuah resto, yang kemudian ada jotos-jotosan antara Alex dan pria itu, dan berakhir di apartemen Alex dengan adegan kissing dan selanjutnya.
Semua ceritanya simple tapi mengalir. Read more »
Mon, December 3, 2007 | On: Buku, Film, & Musik, Personal
Kalau saja aku punya suara yang sedikit merdu (ya, sedikit saja cukup kok!), pasti aku akan sangat bersemangat kalau ada teman yang mengajak karaokean. Dari dulu malas kalau diajak, karena aku merasa rugi, sama2 bayar tapi aku pasti tidak PD untuk ikut bernyanyi.
Selain itu, tentu nilai mata pelajaran kesenianku tidak akan mentok di nilai 6 (jarang 7) saat SD. FYI, di SD ku dulu sangat tidak kreatif. Setiap pelajaran kesenian, test dan penilaiannya hanya menyanyi saja.
Setelah SMP-SMA baru deh nilaiku bisa naik, karena ada menari, menggambar, melukis, dll.
Tapi, aku juga sangat bersyukur telah diberi suara, sehingga walau aku tidak PD untuk bernyanyi di depan orang lain, tapi aku tetap bisa bebas bernyanyi di kamar.
Menyanyi berbagai genre musik yang berbeda pun tak masalah. Mulai dari Michael Buble, Metallica, Muse, Helloween, Yngwie, Queen, Gigi, D’cinnamon, dsb dst..
Jadi, jika Anda tidak punya suara merdu, menyanyilah di kamar, dan tutup pintu rapat-rapat. Di kamar sendiri, bukan kamar tetangga! Read more »
Sat, October 20, 2007 | On: Buku, Film, & Musik, Love
Sudah lama aku tidak menyempatkan waktu untuk membaca buku, karena suatu pekerjaan yang mengharuskan aku untuk banyak menghabiskan waktu di depan komputer, dan waktu luang yang ada banyak aku gunakan untuk nonton (tv, dvd) sambil rebahan, dan tidur…
Ada beberapa buku yang belum terbaca (seperti biasa, suka beli tp bacanya belakangan :p). Salah satunya buku ini: Sepotong Senja untuk Pacarku, karya Seno Gumira Ajidarma (SGA).
Alasan aku membeli buku ini pertama kali karena judulnya.
Ternyata judul memang cukup berpengaruh ya.
Judulnya indah, tapi tidak sok puitis. Biasanya penulis lebih banyak mengganti kata ‘pacarku’ dengan ‘kekasihku’. Agar terlihat lebih puitis, lebih nyastra, atau lebih gimanaaa gitu kali ya.. Tapi buku ini tidak, padahal SGA penulisnya.
Buku ini merupakan kumpulan cerita yang saling berhubungan. Ada 13 cerita/bagian di dalamnya. Cerita pertama berjudul sama dengan judul bukunya. Menceritakan seorang lelaki (Sukab) yang mencuri senja untuk kekasihnya (Alina). Bisa baca cerita ini di blognya. Waaah begitu baca aku langsung baca ulang lagi! Bukan karena aku tidak mengerti, tapi karena baguus…! Sebuah surat cinta biasa tapi bisa menjadi luar biasa indah. Sampai-sampai setelah itu rasanya ada energi yang timbul untuk menulis, dan aku mulai corat-coret mencoba menulis sebuah surat yang serupa (walaupun tidak tahu untuk siapa :p). Tapi hasilnya kok mengecewakan hihihi.. *lempar kertas ke tong sampah*. Read more »
Cerita ini berdasarkan (diceritakan ulang dengan bhs suka2-ku) dari sebuah buku kumpulan cerpen yang judulnya ‘Mimpi-mimpi si Patah Hati‘.. (duh kok judulnya gue banget yak
), oleh Sendutu Meitulan. Aku gak bilang buku ini bagus sih, soalnya kumpulan cerpen, ada yg bagus ada yg enggak.
Oh iya, cerita di bawah udah aku ringkas dengan ‘bahasa’-ku
Tapi msh tetep panjang, jadi: AWAS, SANGAT PANJANG!!!
[start story] Read more »