Lindungi yang Kita Sayangi

October 29, 2014 / by / 6 Comments

Tepat setahun yang lalu, Oktober 2013, saya dan baby Aru sama-sama dirawat di rumah sakit. Rawat gabung, sekamar berdua dengan baby Aru yang saat itu berusia 7 bulan. Saat itu saya kena DBD plus typhus, sedangkan baby Aru kena DBD plus ISK. Jangan ditanya sedihnya seperti apa, ya pastilah sediiih sekalii melihat bayi umur 7 bulan harus diinfus dan harus cek darah tiap hari karena DBDnya.

Kesedihan saya bakalan bertambah jika harus membayar seluruh biaya perawatan rumah sakit yang lumayan. Selama 5 hari dirawat di kamar kelas I di Kemang Medical Care (KMC), kami menghabiskan biaya total 14an juta. Lumayan bikin tambah drop kalau harus membayar biayanya. Tapi saat keluar dari rumah sakit, saya hanya harus membayar sebesar Rp. 200an ribu saja. Lalu tagihan yang 14juta dibayar siapa?! 😮
Dibayar Allianz, asuransi kesehatan yang kami gunakan. 🙂

Lhoh! Bukannya asuransi klaimnya susah? Kalo ikut asuransi tapi gak sakit, rugi ilang duitnya!

Asuransi adalah salah satu bentuk pengendalian risiko, dengan cara mengalihkan/mentransfer risiko tersebut dari pihak pertama ke pihak lain, dalam hal ini adalah kepada perusahaan asuransi.

Klaim asuransi susah, kalau data yang dibutuhkan tidak lengkap, kalau penyakit kita ternyata tidak dicover. Agar terhindar dari semua kesusahan itu, maka belilah asuransi dengan ‘isi’ sesuai yang kita butuhkan. Tahu dari mana isinya? Dari baca polis asuransi, dan dari penjelasan agen yang kompeten.

Sebagai karyawan, saya mendapatkan asuransi kesehatan rawat inap dari kantor dan reimburse untuk rawat jalan. Wah…sudah aman dong?!

Ternyata: BELUM AMAN!

Plan yang didapat dari kantor (perusahaan lokal), hanya (misal) 400ribu rupiah per kamar per hari. Artinya, jika saya dirawat inap, asuransi akan menanggung biaya sebesar 400ribu rupiah per hari untuk kamarnya (serta biaya lainnya menyesuaikan plan di kelas kamar 400ribu tersebut). Nah, 400ribu di Jakarta kira-kira dapat kamar kelas berapa dan seperti apa? Apakah kelas kamar tersebut sudah memenuhi kebutuhan saya jika seandainya saya harus dirawat inap di Rumah Sakit? Kalau sudah cukup, saya sudah aman.

Tapi buat saya, itu tidak cukup. Saya tentu ingin dirawat di rumah sakit yang cukup bagus, dengan kamar yang nyaman. Jadi saya harus beli asuransi kesehatan pribadi untuk menutup kekurangan tersebut. Apa yang harus dilakukan? Gimana caranya?

Pertama, saya harus mendata rumah sakit mana saja yang masuk dalam daftar “jangkauan” saya, yang maksudnya antara lain: RS yang tidak terlalu jauh dari rumah, RS yang dekat kantor, RS yang ada di sekitar perjalanan PP rumah-kantor ataupun sekitar tempat beredar saya. Oke, dapatlah nama RS A, B, C, dan D. Setelah mendapatkan nama-nama RSnya, saya harus cari tahu berapa tarif kamar per malamnya dan fasilitasnya. Dari situ bisa dilihat mana kamar dan tarif yang sesuai buat saya. Untuk ukuran Jakarta, kamar dengan minimal kelas I di rumah sakit yang bagus, per malamnya sudah mencapai 1 juta rupiah. Mahal ya… 🙁

Kedua, jika sudah punya kandidat asuransi yang ingin dibeli, harus tahu apakah RS-RS tersebut menerima pembayaran menggunakan asuransi yang ingin dipakai? Dan bagaimana track record asuransi tersebut? Biasanya RS akan terbuka jika track record pembayaran asuransinya buruk.

Ketiga, dari 2 step di atas, tentukan mana pilihan asuransi yang ingin dipakai. Atau, bandingkan benefit dari masing-masing kandidat yang sudah lolos dari 2 step di atas. Lalu, berapa kekurangan biaya kelas kamar yang ingin dipenuhi?

Akhirnya, saya membeli asuransi tambahan pribadi dengan plan kelas kamar 600ribu rupiah per hari untuk memenuhi kekurangan dari asuransi kesehatan yang diberikan kantor saya. Asuransi yang saya beli haruslah asuransi yang bisa melakukan CoB (Coordination of Benefit) dengan asuransi kantor saya.

CoB (Coordination of Benefit) adalah proses di mana dua atau lebih penanggung (payer) yang menanggung orang yang sama, untuk benefit asuransi kesehatan yang sama. CoB ini akan membatasi total benefit dalam jumlah tertentu, yang tidak melebihi jumlah pelayanan kesehatan yang dibiayakan.

Dan saya pilih asuransi kesehatan dari Allianz. Alasannya? Allianz punya produk yang saya butuhkan, yaitu asuransi kesehatan (non unitlink). Jaringan Allianz cukup luas, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Track record di RS-RS bagus. Dari segi keuntungan dan fasilitas juga tidak kalah dari produk asuransi lain. Biaya preminya bersaing. Kebetulan, asuransi yang dipakai kantor saya juga Allianz. 🙂 Karena asuransi kantor dan pribadi sama, jadi harapannya memang saat ada klaim CoB-nya akan lebih mudah.

Dengan terpenuhinya kebutuhan asuransi kesehatan pribadi saya sekarang, berarti salah satu dari kebutuhan proteksi untuk saya sudah terpenuhi. 🙂

Wait..salah satu?! Jadi, ada apa lagi?!

Masih ada asuransi jiwa yang belum saya miliki. Tapi sebenarnya, perlukah saya mengambil asuransi jiwa?

Asuransi Jiwa adalah polis asuransi yang membayar manfaat atas kematian kepada penerima tanggungan apabila tertanggung meninggal dunia. Produk ini dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada keluarga yang menjadi tanggungan.

Yang wajib punya tentu saja kepala keluarga atau pencari nafkah utama. Kalau penanggung kebutuhan finansial hanya si suami, si istri bisa saja tidak perlu memiliki asji. Tapi saat ini kondisi kami sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama, walaupun porsi saya tidak besar. Jadi sebaiknya saya juga punya, mungkin dengan UP (uang pertanggungan, yang akan keluar saat meninggal) yang tentunya tidak sebesar asji milik suami.

Untuk asuransi jiwa ini, akhirnya di tahun ini suami sudah punya, dan lagi-lagi kami pilih Allianz, setelah membandingkan dengan beberapa produk sejenis. Bisa panjang juga jika harus diceritakan dalam tulisan ini, jadi lain waktu saja ya. 😀

Sebenarnya, asuransi jiwa adalah produk yang diharapkan tidak pernah terpakai. Karena tentu saja tabu dan kita juga tidak mengharapkan kematian datang segera. Tapi justru karena tidak tahu sampai kapan usia kita, mengelola risiko di sini jadi sangat penting terutama jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Jadi saya rasa, selain kesehatan, saya perlu mengelola risiko ini untuk melindungi orang-orang yang saya sayangi, menjamin mereka bisa hidup tetap layak jika terjadi sesuatu pada saya sewaktu-waktu.

Menurut saya, jika ingin mengelola risiko, melindungi keluarga dari badai finansial yang mungkin diakibatkan oleh risiko kesehatan maupun kematian, asuransi itu tidak bisa ditawar!

Let’s protect what we love with insurance 🙂


6 Responses
  1. cK

    Waaah aku juga pake Allianz. Double malah. Dari kantor nyokap sama kantorku hahahaha. :)))

    Oct.29.2014 at 10:30 pm
  2. Alderina

    Sama! Allianz buat asuransi jiwa dan sakit keras. Kmrn tanteku cancer, uangnya keluar semua. Makanya percaya banget sama Allianz.

    Oct.29.2014 at 10:47 pm
  3. rere

    Belum punya asuransi jiwa, padahal penting banget ya. 😐

    Oct.30.2014 at 10:31 am
  4. dewi

    Punya asuransi double gini penting banget ya. Kmaren pas suami sakit, limit pertanggungan per kamarnya juga kecil, jd banyak nombok. Untungnya sih dicover sama kantor. Kalau ngga… errr…

    Nov.03.2014 at 7:39 pm
    • Fany (Author)

      @Dew: dicover kantor kan jadi ngabisin plafon reimburse tahunannya kan 😀 Kalo punya double cover, jatah reimburse kantornya bisa dipake buat sakit2 kecil rawat jalan.

      Nov.04.2014 at 4:06 pm
  5. riky perdana

    iya mbak, zaman skrg harus punya asuransi pribadi, kalo andalin asuransi kantor saja kurang banget…

    Feb.21.2015 at 9:53 am
Leave a Comment