Low Cost Bukan Berarti Murahan

June 29, 2011 / by / 5 Comments

Slogan Low Cost but High Impact bagi social media –yang sering digembar-gemborkan beberapa marketer di berbagai media itu– seringkali dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang murah (sampai benar-benar sadis murahnya). Padahal untuk menjalankannya juga butuh tenaga, pikiran, serta makan waktu yang relatif tidak singkat.

Saya sering mendapat atau dimintai tolong untuk mencarikan tenaga untuk social media. Pernah suatu kali saya diminta mencarikan *kayak makelar aja* tenaga social media admin. Saat saya tanyakan job desc-nya, mereka bilang harus meng-admini setiap hari, selama jam kerja gak boleh ada pertanyaan yang terlambat, harus bikin report kualitatif & kuantitatif, harus bikin editorial plan, memberi insight, ini itu dsb. Ini sebenernya nyari admin atau nyari socmed manager yah.. o_O Lalu saya tanyakan berapa fee untuk pekerjaan itu, dan jawabannya sungguh mengejutkan, tidak lebih besar dari UMR. :o

Meskipun bisa mempekerjakan sebagai freelancer, tapi freelancer kan harus menyediakan koneksi sendiri (yg di luar fee tsb), harus menyediakan waktu untuk ‘mantengin’ channel2 socmed yang dipegang, harus punya knowledge yang cukup dari produk yang dipegangnya. Gak sesimple menjawab pertanyaan dari user yang hanya ‘say hi’ atau tanya promo aja. Di salah satu tempat kerja saya bahkan punya aturan yang cukup ketat.

Trus, ada cerita dari teman tentang tenaga utk social media manager in-house, dengan gaji yang cukup, tapi dengan tugas ini-ini-itu hingga sebagai admin dari produk yang cukup banyak dibicarakan. Jadi dia harus merangkap sbg planner/strategist dan sbg admin, si perusahaan gak mau mengeluarkan budget tambahan untuk membentuk tim. Kalo channelnya rame, kasus usernya banyak, gimana bias mikir strategist kalo harus diribetin sama printilan admin ya?

Masih ada beberapa contoh kasus lain yg serupa. Memang sih di pekerjaan ini tidak ada aturan yang baku, tergantung kebijakan perusahaan. Tapi kalo mau sama-sama belajar, harusnya bisa dibuat yang sama-sama menguntungkan bagi semua pihak. Saya juga masih belajar, masih pemula juga, jadi masih sangat mungkin pandangan saya di atas itu salah. :D

Btw, ada gak ya yang iseng-iseng bikin daftar jabatan, jobdesc, dan fee para pekerja social media di Indonesia? :)


5 Responses
  1. didut

    kl denger ceritamu kok sadis emen to ya fan? :(

    Jun.29.2011 at 11:20 pm
  2. SEObasic

    Iya mas, saya kira orang Indonesia (..kita2 ini termasuk sich) harus belajar menghargai freelancer. bahwa freelancer itu yang pekerjaan. jadi harus profesional ngerjainnya tapi juga harus profesional fee-nya. betul tidak? thanks salam kenal :))

    Jul.04.2011 at 3:48 am
  3. Tongkonanku

    Wah.. gak benar tuh.. kalau fee serang admin socmed di bawah UMR. Sebagai freelancer kita harus menolak mentah2 client yg ngasih fee di bawah UMR. Biar mereka juga tahu, kalau freelancer itu pekerja profesional, yang harus dihargai tinggi. :)

    Jul.11.2011 at 6:03 pm
  4. bukik

    Jadi bumerang ya slogan Low Cost but High Impact
    Kapan hari pernah ngetweet nyindir slogan itu juga sih
    eh baca di blog ini ternyata jadi kenyataan

    Aku uga gak setuju kerjaan di social media dihargai rendah banget gitu
    seolah-olah bisa sambilan, padahal harus mantengin terus

    Jul.25.2011 at 9:21 am
  5. efri

    Kita sebenernya bisa mendapat penghasilan jauh di atas UMR, asalkan kita sebagai freelancer kompak dalam menentukan gaji, emang si.. sedikit susah untuk menyatukan pendapat.

    Nov.02.2011 at 5:17 am
Leave a Comment