New Wave Marketing, Semua Serba Horisontal

November 25, 2009 / by / 26 Comments

New Wave Marketing. Istilah itu sudah sering saya dengar sejak tahun lalu, sejak Hermawan Kartajaya diundang dalam sebuah talkshow di televisi dan beliau menjelaskan tentang gelombang baru di dunia marketing ini. Saya tidak ingat benar detail acaranya, tapi yang saya ingat beliau menjelaskan tentang bagaimana sebuah bisnis akan bisa bertahan di tahun-tahun mendatang. Tentunya bisnis tersebut harus mampu mengikuti perkembangan –salah satunya- dunia marketing.

Seperti yang kita tahu, model marketing konvensional masih bersifat one-to-many, yang sifatnya monolog atau searah, dan menempatkan konsumen atau pelanggan sebagai target. Lalu dalam perkembangannya, dunia marketing mulai menerapkan strategi one-to-one, yaitu dengan personalization ataupun customization, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing konsumen secara spesifik. Misalnya, dengan memberi rekomendasi pada produk-produk yang sesuai dengan preferensi atau behavior konsumen, atau membuat produk custom-made sesuai permintaan konsumen. Strategi ini membutuhkan resource dan dana yang cukup (besar) jika ingin benar-benar meng-cover seluruh konsumen, dengan database yang cukup kompleks.

Tapi, database is not a community. We must have interaction.
Di era new wave marketing ini, tidak cukup dengan strategi one-to-many dan one-to-one saja, tapi juga many-to-many, dengan terciptanya dialog (dua arah), dan konsumen atau pelanggan bukan hanya sebagai target, tapi pelanggan adalah partner, dalam sebuah network (jaringan) dan community (komunitas).

Didukung dengan teknologi Internet dengan Web 2.0-nya yang semakin canggih, menempatkan pelanggan sebagai partner atau ‘teman’ dalam sebuah jaringan bukanlah hal yang sulit. Ada banyak teknologi social networking yang bisa dimanfaatkan bahkan secara gratis, seperti Facebook, Twitter, Plurk, Youtube, forum, blog, dan sebagainya. Layanan-layanan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pendukung strategi one-to-many, dengan cara mem-broadcast suatu informasi. Dan sekaligus many-to-many, karena dari situs-situs social networking tersebut perusahaan bisa memperoleh feedback dari para pelanggan maupun calon pelanggan. Dari sini bisa tercipta dialog atau interaksi antara perusahaan dan konsumen. Pendekatan marketing yang sebelumnya bersifat vertikal, menjadi horisontal. Dan tentunya tidak memerlukan dana yang besar, karena teknologi tersebut gratis. Low cost but high impact!

social-networking

Maka tak heran jika belakangan banyak perusahaan yang sengaja membuat official blog, facebook, hingga twitter. Mereka bisa berkomunikasi secara langsung dengan ‘partner’-nya, bisa menyebarkan informasi dan mendapatkan respon dalam waktu relatif singkat dari friends/follower (pelanggan maupun calon pelanggannya).

Tak cukup sampai di situ, untuk terjun lebih dekat ke konsumen, beberapa perusahaan juga sengaja meng-endorse beberapa blogger atau twitter user yang dianggap berpengaruh di komunitas atau jaringannya. Blogger/twitter user ini biasa disebut: influencer. Influencer ini bisa menuliskan tentang review produk di blog, atau mengajak teman-teman di komunitasnya untuk mencoba suatu produk. Atau bahkan hanya mention product name/brand di situs social networking-nya, untuk sounding dan menimbulkan respon keingintahuan orang lain tentang produk tersebut. Pemilihan influencer dalam suatu komunitas harus benar-benar tepat jika tidak ingin useless, sehingga pesan yang akan disampaikan juga bisa tersebar dengan baik dalam jaringannya.

Jadi, seperti yang sudah disebutkan di artikel From Broadcasting to Networking, bahwa di era New wave ini, semua serba horisontal. Pesan dan respon akan langsung tersebar dalam jaringan. Bukan lagi komunikasi searah, tapi interaktif.

markplusconf

Tulisan ini juga dibuat untuk menanggapi artikel tersebut (From Broadcasting to Networking), untuk Bloggers @ MarkPlus Conference 2010.


About the Author