“Ketemunya di mana?”
“Di emperan… :mrgreen:
Ya ampun, gak keren banget deh… :lol:

Saya tidak tahu apa eyang kakungnya mengira jawaban itu serius atau becanda, tapi memang begitulah kenyataannya. Tidak ada yang menyangka jika pertemuan Jumat malam komunitas BHI di salah satu emperan kawasan bunderan HI Jakarta pada 16 Mei 2008 malam itu akan mempertemukan saya dengan seseorang yang kini mengisi salah satu ruangan di hati saya.

***

Saat itu, saya bahkan tidak punya pikiran dan rasa apapun terhadapnya. Tidak pernah terpikir untuk mendekatinya, dan dia pun sama sekali tidak mendekati saya. Saya bahkan masih belum bisa melepas “kacamata kuda” saya. Sampai berminggu-minggu. Tidak ada yang spesial. Hanya percakapan-percakapan di YM, yang saya rasakan juga tidak ada unsur pedekate atau flirting-flirting atau pujian-pujian seperti yang dilakukan oleh beberapa lelaki lain. Tapi mungkin justru itu yang membuat saya nyaman ngobrol dengan dia.

Saya sendiri tidak menyadari kapan rasa itu mulai muncul. Banyak detil yang saya lupa begitu juga dia.

“…yang terjadi semua nampak begitu cepat sehingga banyak detil-detil cerita yang gw lupa. Tapi detil nggak akan berguna kalo nggak bisa menangkap gambaran besarnya,” katanya.

Hingga akhirnya saya harus ke Jakarta bulan lalu, baru saya bisa memastikan adanya rasa yang lain itu. Kepergian saya ke Jakarta saat itu sebenarnya bukan sebuah perjalanan yang benar-benar terencana, karena dalam rencana saya baru akan ke Jakarta setelah lebaran tahun ini. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain, sehingga saya harus pergi ke luar pulau dengan transit di Jakarta, dan lalu memutuskan sekalian tinggal beberapa hari pula di Jakarta.

Meski sudah memastikan adanya rasa, tapi banyak ketakutan dan kebimbangan dalam diri saya. Akhirnya ketakutan dan kebimbangan saya mulai sirna ketika melihat si lelaki bersih dan wangi itu turun dari kereta di kota ini, lalu membuat akhir pekan kemarin menjadi salah satu akhir pekan saya yang paling berkesan.

beforetoolate.jpgSebuah buku catatan kecil yang dia berikan untuk saya, yang isinya dia tulis di sepanjang perjalanan di kereta, sempat membuat saya menitikkan air mata terharu *haduh, dasar melow!*.
Juga sebuah pertanyaan pada sebuah sore di 3 Agustus 2008, yang membuat saya bingung bagaimana mengeluarkan jawaban yang sebenarnya sudah ada tapi masih tersangkut di tenggorokan. Dan akhirnya bisa juga jawaban dan kata-kata itu keluar. YAY! :mrgreen: Maaf ya, muter-muter dulu jawabnya..

Saya tidak pandai merangkai kata seperti dia, tapi kata seorang teman, “Asal pake perasaan, ya jadinya pasti tulisan bagus.” Dan tak penting bagus atau tidak tulisan saya ini. Hanya ingin membuat catatan di jurnal online saya tentang salah satu episode baru dalam perjalanan hidup saya.

Terimakasih untuk kamu
:oops: