A A
RSS

Percaya Gak Sih…

Mon, Jan 28, 2008

Random

Mereka bilang percaya sama Tuhan…

Tetapi kenapa harus terus menghakimi dan menuntut keadilan pada orang yang sudah tidak berdaya bahkan sekarang sudah tidak bernyawa..?

Itu kan sama saja dengan tidak percaya bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa ada kehidupan di alam baka sana, dan dengan dia telah berada di sana maka Tuhan akan memperlakukan orang itu dengan seadil-adilnya sesuai perbuatannya di dunia fana ini.. :roll:

*lagi males nulis panjang2*

{ 391 views }

40 Responses to “Percaya Gak Sih…”

  1. sandal says:

    iyo je, belum juga dikubur dah pada treak-treak.. mbok ya biarin pergi dulu dengan tenang, hormati kelurga yg lg sedih..

    hiks, komen pake on screen keyboard memang payah, komputere anto bosok! wahaha..

  2. taufik says:

    “Tuhan tahu tapi menunggu” :neutral:

  3. mr.bambang says:

    Padahal, bagaimanapun juga mayoritas dari kita adalah produk orde baru lo.hehehhe

  4. Jiewa says:

    Ini ttg paman Gober ? :D

  5. ekowanz says:

    bagiku kok over dosis bgt sih media2 itu…orang2 juga jadi aneh, jadi sok2an pro, jadi sok2an kontra…

    memang magnet orang besar…seorang kepala keluarga, kepala negara, dan pribadi yang bisa mengubah orang2 dengan powernya.

  6. *celingukan kiri kanan*
    eh, saya ndak salah masuk blog kan?
    takutnya saya sedang berada di blog pengajian, heheh.. :-)

    betul Fan..banyak orang yg tetep sewot..aneh deh..padahal seperti mr Bambang bilang, kita2 ini mayoritas produk orba :D

  7. lowo says:

    memaafkan itu mudah non, tapi melupakan itu yg susah
    seperti paku yg tertancap pada kayu, dan kemudian bisa dicabut.. tapi bekas itu masih ada bukan? :sad:
    ah.. sudahlah… *nyodorin counterpain*

  8. Goenawan Lee says:

    Nyah? Bagi aku yang meragukan konsep afterlife, gimana ini? :mrgreen:

    *dibakar massa*

  9. didats says:

    seharusnya sih, kalo ditanyakan dimaafkan apa nggak, tanyanya ke para korban. mungkin aja yg tereak2 itu para korbannya fan.

    korban tanjung priuk, aceh, timor-timor, papua, dan keluarga2 yg jadi korban.

    eh, tapi sekarang soeharto udah gag bisa mangkir lagi ya di pengadilan akherat…

    ya itu lah, orang udah mati kok dimintai pertanggungjawabannya sama org2 yg masih hidup, gak bakalan bisa.. kalo percaya Tuhan ya percaya pengadilan di akhirat. tuntut aja yg masih hidup dan sehat…

  10. cempluk says:

    mending biarlah Tuhan yang menuntut yang tidak bernyawa ini bila ada salah..bener gak jeung ??

  11. @lowo

    memaafkan itu mudah non, tapi melupakan itu yg susah

    Berarti belum memaafkan tuh :D

  12. geblek says:

    Lowo@
    sodorin dempol kayu:)

    terlepas dr itu semua, skg kejam yg nuntut atau yg dituntut

  13. Anang says:

    wah seragam ni ulasannya…

    [...]Bagaimanapun beliau adalah seorang bapak bangsa ini. Seorang yang pernah menjadi bapak dan mengurusi anaknya yang bernama Indonesia… Indonesia sebagai seorang anak yang berbakti sudah seharusnya menghormati dan mendoakan bapaknya yang telah tiada.. Urusan kesalahan sang bapak yang pernah diperbuat sudah pasti Sang Maha Segala yang juga Sang Maha Adil itu akan menjadi hakim sesungguhnya kelak di hari penghitungan amal… Semua kejujuran akan terkuak dan terbuka lebar disana kelak. Marilah kita jauhkan diri dari yang namanya fitnah. Kalau tidak punya cukup bukti yang kuat, janganlah sok ikut-ikutan berteriak lantang, karena itu adalah jalan menuju sebuah fitnah. Karena bagaimanapun juga fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

  14. aLe says:

    Yup, biarlah waktu yg akn menuntun kita.,

  15. Ya ya setuju…

    Memang Dia yg Maha Adil..

  16. antobilang says:

    jadi aku mau tanya balik : “fany percaya nggak?”

    :mrgreen:

    halah wis jelas ning tulisane percoyo kok isih takon, dasar anto dudul!
    *kabor*

  17. Ariw says:

    heleh.. gitu aja kok repot… :lol:
    BTT ; soalnya doa rakyat kebanyakan gini :”Semoga diterima di Sisi Tuhan Yang Maha Kuasa”.. pasti yg pd nuntut gak terima dong… enak men..

  18. ika says:

    turut berduka cita, semoga kluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

    all in all, yang namanya memaafkan tidak bisa lalu dipandang sejalan dengan proses penegakan hukum, nanti negeri ini jadi negeri halal bihalal :mrgreen: . kalo soal maaf memaafkan, seharusnya memang kita semua memaafkan lah khan kita semua tak sempurna, jadi wajib saling memaafkan. tapi itu duwit yang diembat jumlahnya besar sekali untuk dikembalikan demi kesejahteraan rakyat. kalo gak diteruskan prosesna (yang menurut lembaga peradilan,kasusnya bisa diturunkan ke anaknya) maka negara ini ga pantas menyandang status negara hukum, la wong dengan maaf aja kasusnya slese, hehe.

    kalo memang negara ini gak bisa menegakkan keadilan, harusnya kita semua juga punya ‘kesempatan’ kriminil yang sama dong. kalo itu terjadi, besok saya pukul orang atau korupsi yang banyak ah lalu saya mau minta maaf aja ah biar gak dikasuskan, hehe :p

  19. ika says:

    lembaga peradilan memang ada dua, dibumi dan di akhirat. lembaga peradilan dibumi tugasnya memastikan supaya hal2 kriminil yang terjadi ataupun tindak penyelewengan hukum bisa diselesaikan secara hukum dan seadil2nya supaya tercipta keharmonisan dan balance dinegeri yang bersangkutan. hal itu bisa jadi pembelajaran bagi para penguasa supaya tidak main2 dengan hukum dan tidak melakukan tindakan2 yang merugikan negara. kalo lembaga peradilan hukum tidak dijalankan sebagaimana mestinya atau tegas memberantas kasus2 pidana or perdata maka akibatnya sungguh fatal. banyak orang yang bakalan memanfaatkan itu dan mereka jadi menyepelekan peradilan itu sendiri. mereka menjadi bisa berkehendak semaunya karena mereka ‘mencontoh’ yang sudah2 semisal dalam kasus pak harto ini, kalo pemerintah gak tegas menyelesaikannya dan ngembaliin itu duwit ke rakyat (plus kroni2nya) maka reformasi akan berjalan sia-sia, akan banyak korupsi dan jumlahnya bisa dipastikan bertambah banyak (saya kira bertahun2 kemudian para koruptor pasti juga akan melakukan hal yang sama = meminta maaf di ranjang pesakitan, enak banget ya???) akibatnya lagi2 rakyat yang menderita. kalo begitu apa artinya reformasi kalo keadaannya sama aja dengan orde baru dimana tidak ada ketegasan dalam hukum.. *saya ngiri ngeliat negeri sebelah yang tegas dalam hukum dan yang tidak mencampuradukkan kata maaf dengan proses penegakan hukum* . Dimaafkan bukan berarti kasusnya ditutup. Nanti, apa kata dunia?

    :mrgreen:

  20. ika says:

    oiya, tambahan lagi (hehe hatrick :mrgreen: )
    komen diatas bukan menghakimi lowh, tapi hanya sedikit opini dan kritik ga penting untuk lembaga peradilan kita yang ga tegas dan terkesan leda-lede. ini negara yang kaya tapi terlalu banyak tikus didalamnya, karena lembaga hukum yang tidak tegas, kekayaan tersebut hanya bisa dinikmati oleh segelintir org saja. jika lembaga hukum tegas terhadap korupsi, rakyat sampai pelosok negri mungkin bisa punya opportunity untuk menikmati kekayaan negeri ini juga, ah alangkah enaknya jika keadilan itu memang adil <– bermimpi.com

  21. tomyzero says:

    DARI PADA SALING MENGHUJAT LEBIH BAIK DENGERIN BLACK SABBATH…..!!!!

    SLIA KE 2 PANCASILA THN 2008

    TOMY——-> PENGGEMAR BAND-BAND LEGEND

    MATUR NUWUN :oops:

  22. Yanuar says:

    sesuai judul diatas,

    percaya…percaya….

  23. detnot says:

    udah saya maapkan kok :-”

  24. veta says:

    percaya gak percaya

  25. daengrusle' says:

    sepakat
    adalah tidak etis, dan manusiawi mengganggu orang yg sedang bernegosiasi dgn Tuhannya…

    …sekarang, biarkan jiwa almarhum tenang menghadapi Pengadilan Yang Maha Adil di alam sana, akan hal hukuman yang berlaku buatnya, itu sudah urusan Yang Maha Kuasa dengan jiwa almarhum…walau gagal di adili oleh pemerintah kita yang teramat baik hati [atau lemah], dipastikan saat ini Pak Harto sedang mengikuti Pengadilan Yang Maha Adil. Jadi, tenang saja, sekotor apapun tangan nya, pasti akan dibalas setimpal.

  26. stey says:

    Memaafkan Fan..sebagai pribadi..tapi ya itu tadi terlalu banyak yang harus dimaafkan..saya sih mending, ga punya dendam apa2 ma beliau, cuma rada aneh aja ngeliat jalannya acara pemakaman dll kok mpe gede2an gitu..apa kabar bung Karno?Apa Kabar Bung Hatta?Apa kabar Adam Malik?Apa kabar Munir?lah udah deh..lagi ga mampu bicara kayak gini..hehhe..

  27. aprikot says:

    forgiven is for forgotten?

  28. unai says:

    Ada pengadilan maha agung di sana Fan..eh kok males nulis panjang?

  29. escoret says:

    [...] *lagi males nulis panjang2* [...]
    lagi males koment panjang2..!!!!

  30. aRya says:

    udah nyante aja
    toh juga klo diadili kita kagak kebagian pa2
    tetp ja kayak begini
    :mrgreen: :mrgreen:

  31. zam says:

    coba tanyakan ini kepada “mereka yang telah disakiti” oleh pak tua yang akhir hayatnya itu masih saja menyusahkan itu, fan..

    jawabannya akan berebeda.. :D

  32. Niff says:

    Fan, kamu harus lebih banyak baca buku-buku agama!
    *kabur*

  33. Vavai says:

    Yang teriak-teriak itu (except para korban langsung ya) nggak nyadar kalau mereka sendiri tidak jauh lebih baik.

    Kalau cuma wacana ini dan itu, Indonesia memang punya banyak orang yang cuma bisa teriak Fan…

  34. deniar says:

    Biarkan dia menghadapi peradilan yang hakiki.

    Bagaimanapun kasus ini tidak bisa ditutup. Sebenarnya bukan peradilan ‘mengadili’ seorang Soeharto, tetapi adalah peradilan mengadili kasus-kasus yang didalamnya (andil besar) terlibat Soeharto. Jadi tidak masalah Soeharto ada atau tidak karena proses pengadilan yang diadili adalah kasusnya.

    Sudah 2 kali kita gagal melakukan peradilan kepada Presiden. Dulu jaman Soekarno juga begitu, akhirnya kasus peradilan tidak dilanjutkan. Proses peradilan yang saat ini tetap harus ada, untuk mengedukasi masyarakat. Kita sudah pernah belajar dari kasus Soekarno dulu, sekarang kita tidak boleh lepas dengan kasus ini.

    Proses pengadilan dan penyidikan tetap harus berlanjut, mengapa? Karena aku yakin kasus ini bukan one man show Soeharto, tetapi ada oknum2 laen yang terlibat juga. Kalau kita tetap menyidiki, kita juga akan bisa menjerat siapa-siapa yang terlibat di belakang ini.

    Ini sebuah lengkah untuk mewujudkan manusia Indonesia yang dewasa dalam berdemokrasai dan berwarga negara.

  35. Fany says:

    ya ampun.. ternyata tanggapannya.. :lol:
    yang aku tulis bukan perkara maaf-memaafkan, tapi soal hujat-menghujat orang yang sudah mati, dan soal minta pertanggungjawabannya.

    Kalo soal kasus2 hukumnya, ya coba donk disorot kroni2nya yang masih hidup, jangan muter2 sama yg udah mati krn yang mati gak bisa idup lagi.
    itu kan bikin kroni2nya yang masih pada ‘aman’ langsung kabur atau mengaburkan bukti yang ada.

    Teriak2 tanpa agenda yang jelas gak ada gunanya. Sama seperti reformasi kemarin yang agendanya hanya sampai menurunkan Soeharto doank. Habis itu kembali tercerai-berai lagi.. :( makanya banyak kasus yang gak terselesaikan sampai sekarang..

  36. Aceh says:

    Nah, makanya topiknya jangan soal maaf me maafkan, itu soal peribadi. Jangan di campur adukkan soal pribadi dengan soal masyarakat.

    Kasus ORBA harus berlanjut, kalau tidak berarti negara sama dengan bubar! Soalnya gak ada yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan persoalan publik.

    Statatus bersalah dan kepastian hukum mesti di beri tahu sama anak cucu, biar kita punya sejarah untuk bisa belajar lebih baik dari masa lalu. Al-Qur’an juga menulis bagaimana Abu Jahal dan Abu Lahab. Atau Fira’aun di mana nabi Musa…

    Itu artinya, Allah juga memberi bukti bahwa yang salah ya salah. Soal di maafkan di akhirat itu bukan urusan manusia lagi. Gitu!

    Salam kami di Aceh
    Dejavu

  37. S-Mart says:

    Seharusnya kroni2x nya itu yg perlu diadili, beliau sepertinya banyak dimanfaatkan oleh mereka. Berterimaksasih pada masa2x beliau, mendapatkan pendidikan sandang pangan yg murah tidak seperti sekarang, walaupun jg msh banyak kekurangan. Beliau bukan seperti-Nya yg Maha Sempurna …

  38. kenji says:

    waduh jenk fany, soal beginian… terus terang jaman sekarang pun saya masih ga berani ngomong detil dan tajam… apalagi di blog :mrgreen:

  39. ayu says:

    Waduh.. comment nya pada panjang-panjang amat ni fan, jadi bingung gw mau comment apaan :lol:
    yang gw inget si.. di Zaman beliau gak rusuh, makanan gak mahal, beras gak impor (ini yg paling penting, kan kita negara agraris) and many things lah.. tapi ya berbalik lagi.. manusia itu tidak sempurna, beliau juga pasti punya kesalahan. Klo mau di adili ya bener juga yang sehat2 aja, toh beliau akan di adili di akhirat sana kan…

  40. kurniawan says:

    saya ngk percaya…kalau fany males nulis panjang-panjang!

Leave a Reply

On Twitter

RSS on Posterous

Visitors Online

Categories

Archives

Latest Flickr photos