Berbagi Senyum26 November ini katanya adalah Hari Tanpa Belanja (HTB) untuk Indonesia. Untuk bangsa lain bisa beda tanggal, yang jelas sih di minggu terakhir bulan November. Dicanangkan HTB salah satunya sebagai simbol untuk melawan konsumerisme yang berlebihan.

Apakah aku ikut merayakan atau memperingatinya? Oh tentu tidak.. Kalaupun tidak belanja hari ini, tentu hari sebelumnya tetep belanja ini-itu buat makan seharian. Selain itu, tidak ada gunanya juga jika kita memperingatinya tapi di hari-hari lain tetap belanja membabi-buta… :)

So, apa yang harus kita dilakukan di hari yang kebetulan diperingati sebagai Buy Nothing Day ini?
Kalau kalian memilih memperingatinya, silakan saja tidak berbelanja apapun.
Kalau memilih untuk biasa saja seperti aku, mari kita pikirkan saja bagaimana caranya agar ‘dosa’ kita, yang telah sering kalap berbelanja dan tidak bisa membedakan antara keinginan vs kebutuhan itu, bisa berkurang sedikit demi sedikit. *lirik para cewek shopaholic* :mrgreen:

Tidak tahu caranya? Let me tell you… *gaya*
Banyak jalan menuju Roma…eh maksudnya kalo kita punya niat untuk menghapus ‘dosa belanja’ di masa lalu, pasti ada jalan kok. *duh tetep nglantur*

Daripada ditimbun di rumah, bisa jadi sarang penyakit (nyamuk), kita bisa menyumbangkan barang-barang yang sudah tidak kita gunakan, atau sudah tidak kita butuhkan, untuk orang-orang tidak mampu yang lebih membutuhkannya. Dan bantuan barang juga tidak hanya baju pantas pakai saja, bisa barang-barang lainnya seperti buku, majalah, sepatu yang sudah kekecilan, perabot dapur, dan sebagainya. :)

Bingung nyumbangin ke mana? Tidak tahu letak panti2 yang butuh? Wew…
Kenapa sih kalau nyumbang harus ke panti asuhan, harus kalau ada bencana, dan sejenisnya??

Coba pertama kali, lihat dulu di sekitar kita. Kalau tinggal di lingkungan elite sih agak susah ya. Tapi kalau di perkampungan, bisa saja kan di kampung seberang ada tetangga kurang mampu. Atau yang lebih deket lagi, saudara di kampung yang kurang mampu deh. Sepengetahuanku, tidak semua orang kaya itu semua saudaranya juga kaya-raya. Untuk apa bantu-bantu sambil mengumumkan ke sana-sini, tapi saudara sendiri di kampung masih susah. Baru habis itu ekspansi ke yang lain-lain.. :)

Makanya, salut buat Mas Ipul Bangsari, yang masih ingat ’saudara-saudaranya’ di Bangsari sana hingga bisa mencetuskan Bloggers for Bangsari. Coba saja kalau semua orang di Jakarta orientasinya hanya ke panti asuhan di seputaran Jakarta saja, lalu siapa yang akan mengingat mereka-mereka yang ada di kampung? :)

Jadi sekali lagi, daripada sibuk memikirkan bagaimana agar tidak berbelanja seharian, lebih baik kita berbagi saja.

DoUntuk yang ingin membantu panti asuhan, kebetulan teman-teman Loenpia juga ada program ‘Your Smile 2008. Bisa menyumbang dalam bentuk uang, maupun barang (buku, baju, peralatan tulis, dan kecuali beras karena katanya udah banyak). Sumbangannya akan disalurkan ke panti asuhan di pinggiran sana, tepatnya di Desa Botomulyo, Rt.02/Rw.03 Ndebong Lor Kec. Cepiring, Kab. Kendal -sebuah kota kecil beberapa kilometer di sebelah barat Semarang.

Atau jika ingin membantu anak-anak di Bangsari agar bisa melanjutkan sekolah, kita bisa menyisihkan uang untuk program Bloggers fo Bangsari.

:)