Cerita Cintanometer
Thu, Jul 5, 2007
Cerita ini berdasarkan (diceritakan ulang dengan bhs suka2-ku) dari sebuah buku kumpulan cerpen yang judulnya ‘Mimpi-mimpi si Patah Hati‘.. (duh kok judulnya gue banget yak
), oleh Sendutu Meitulan. Aku gak bilang buku ini bagus sih, soalnya kumpulan cerpen, ada yg bagus ada yg enggak.
Oh iya, cerita di bawah udah aku ringkas dengan ‘bahasa’-ku
Tapi msh tetep panjang, jadi: AWAS, SANGAT PANJANG!!!
[start story]
Tersebutlah sebuah kota antah-berantah yang terletak di gurun pasir nan jauh dari seluruh penjuru dunia. Meskipun begitu, kota ini udah punya berbagai teknologi super canggih. Untuk memanggil hujan, warga tinggal datang minta ke balaikota. Bukan pakai dukun2an, tapi hujan dibuat dengan teknologi super canggih, yang hasilnya beda dengan hujan buatan yang biasa dilakukan dengan pesawat2 saat ini. Tidak hanya hujan saja, di situ bisa tercipta rumah terapung, mobil terbang, pil anti lapar (cocok neh buat yg gendhut2), dan berbagai penemuan super canggih lain.
Tapi pada suatu hari, tiba2 dewan kota mengadakan rapat mendadak, yang sudah tidak pernah dilakukan lagi selama lima ratus tahun terakhir. Tentu ada masalah yang sangat penting, donk..
Ternyata masalahnya karena angka pertumbuhan penduduk kota tersebut stagnan, dan malah mengalami penurunan, yang dikhawatirkan dalam sekian ratus tahun ke depan penduduk kota tersebut akan musnah!
Setelah dibahas, ditemukanlah permasalahannya: pernikahan anak-anak muda turun tajam. Mengapa?
Karena anak2 muda ternyata susah sekali menemukan jodohnya masing2 (duh, kalimat ini juga gue banget :p). Mengapa?
Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. (hihihi….
). Mengapa?
Karena mereka malu untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dibilang pecundang!
Lalu dicarilah solusinya, yang akhirnya menetapkan penciptaan alat pendeteksi cinta, yang disebut cintanometer itu. Bentuknya digambarkan seperti freehand untuk HP, yang dipasang di telinga. Alat ini akan memberi sinyal tentang perasaan lawan jenis yang ada di hadapan penggunanya. Jika berkedip atau berbunyi, maka oke (alias cinta). Jika diam saja, ya tidak jodoh. Bahkan semakin hari semakin ada ditambah fitur2nya! Alat ini bisa mendeteksi dari gesture, getaran dari degup jantung, hingga kadar pheromon yang muncul. (ngomongin pheromon jd inget ‘leher’ hihihi, mgkn di postingan laen cerita deh :p).
Semua warga menunggu untuk mendapatkannya, hingga semua memilikinya. Kota itu lalu menjadi lautan cinta. Semua dengan mudah menemukan tambatan hatinya. Di lapangan, di kafe, di mana2 penuh orang pacaran. Seorang gadis yang sebelumnya hanya berani mengagumi seorang pria dari kejauhan, bisa mendadak PD dan mencium si pria karena ternyata cintanya bersambut.
Cintanometer menjadi alat wajib bagi semua orang. Banyak hal yang jadi menyenangkan, tapi ada juga yang tidak menyenangkan. Bagi yang sinyalnya nyala pada orang yang cakep dan memang pujaannya, tentu hal ini anugrah. Tapi jika nyala pada seseorang yang buruk rupa ataupun dibencinya, si pemakai akan langsung kabur menghindar.
Seseorang yang cantik, bisa saja sinyalnya sering berkedip, karena banyak yang suka, gadis itu bisa memilih pria mana yang diinginkan. Tapi sebaliknya, ironis bagi beberapa orang yang kurang beruntung, karena cintanometer mereka sama sekali belum berkedip. Karena awalnya dikira rusak, mereka mencoba meminjam ke teman yang lain. Tapi hasilnya tetap saja sama, tanpa berkedip2! Jadi tinggalah mereka meranaaa….
Para tetua dewan kota senang, karena ternyata angka pertumbuhan penduduk meningkat, double. Mereka merasa lega karena temuannya sukses. Tapi sebenarnya timbul juga masalah2 lain yang tidak mereka dapatkan laporannya. Misalnya, ada pasangan suami-istri yang bertengkar gara2 mengetahui bahwa si istri ternyata tidak pernah cinta sama suaminya itu. Pernikahan hanya karena harta, materi. Berbagai affair suami dan berbagai aib para istri pun terbongkar dan jadi sumber pertengkaran hebat dalam rumah tangga. Masalah2 itu dianggap biasa saja, karena kan justru lebih banyak orang yang baru menikah karena saling cinta itu belakangan. Dan cintanometer dianggap sebagai penemuan terbaik abad ini.
TAPI, betapapun canggihnya cintanometer itu, ada yang tanpa disadari ‘hilang’ dari kota itu. Kehidupan jadi tidak menarik, sistematis, terukur. Tidak ada lagi seorang pemuda/gadis yang harap-harap cemas menunggu datangnya idaman hati di halte bus, berharap bisa pura2 gak sengaja ketemu trus naek bus bareng. Tidak ada lagi degup jantung kencang saat seorang pria menyatakan isi hatinya pada kekasihnya. Tidak ada lagi syair-syair cinta yang dituliskan untuk memberi sinyal pada pujaan hati. Tidak ada lagi yang namanya PDKT (padahal kan serunya di situ yak hihihi..). HAMBAR.
Lama-lama warga kota jadi lupa apa itu cinta, bagaimana perasaan seseorang saat jatuh cinta… Mereka hanya mengerti apakah cintanometer berkedip atau tidak. Sampai kosakata ‘cinta’ pun terhapus dalam kamus mereka, karena semakin lama tidak ada yang tahu maksudnya. Juga kata-kata yang menyerupai dan biasanya mendampingi si ‘cinta’ itu. Seperti kasih, sayang, rindu, kangen, pungguk merindukan bulan, bahkan jomblo, terhapus semua.
Dan ketika seorang pemuda dari kota lain berkunjung ke kota itu, lalu memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku adalah pengelana hati, datang dari jauh untuk mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” Lalu mereka (warga kota itu) pun menatap pemuda itu dengan pandangan aneh, seperti sedang menatap makhluk dari galaksi lain. Karena mereka tak mengerti, apa itu cinta….
[end story]
Duh capek ketik panjang, berasa bikin dongeng sebelum tidur deh..
Moral of the story: jadi, pilih mana, pakai cintanometer atau pakai ‘hati’ saja? Di satu sisi, seru juga ya kalo ada cintanometer. Tapi di sini lain, justru gak seru. Gak ada rasa deg-degan, gak ada butterfly-effect in my stomach saat bertemu si dia, gak ada tersipu2 malu, waaahh gak seru… gak ada yang bisa dikenang.
Itu menurutku, gimana menurut kalian? *kali aja ada yg betah baca panjang*







ceritanya bagus yaa..
aku mauu cintanometer.
tapi aku maunya cintanometernya cuma aku yang punya. orang lain gak boleh punya.. hihihi
kayaknya lucu juga ada kehidupan serba mudah begitu … banyak teknologi2 canggihnya
Abis baca judulnya, jadi ingat Cintapuccino..
enakan ga pake alat.. jadi bisa ngerasain nikmatnya seneng, deg-deg-an, n sakit karena cinta. bagusnya cintanometer di kasih ke orang2 yang suka nyeleweng
wah udah ada alat ukurnya ya sekarang cinta?? kekekkeke berarti cinta udah gak takterbatas lagi dunk?? udah bisa diukur
Wah klo di Indonesia begitu trus di Indonesia jadi apa yach? gini aja banyak yang poligami apalagi begitu ntar 1 orang istrinya bisa 8 dah gitu keturunan jadi banyak trus tambah miskin dech negara kita.
huahahahaha
Tapi lucu juga Cintanometer? jadi inget pelajaran fisika yang pake alatnya serba pake meter2 he….
wah…alat yang menarik…kira kira kapan sampe di indonesia ya?
Seorang gadis yang sebelumnya hanya berani mengagumi seorang pria dari kejauhan, bisa mendadak PD dan mencium si pria karena ternyata cintanya bersambut.
*nunggu alat ini jadi kenyataan dan dijual murah*
komen dulu….presensi !
laen kali ajah deh bacanya…
:p
Untung ga ada “cintanometer” di sini..
kalau ada percintaan ku kurang seruuuuuu!!
Hayooo Fan keep on trying to find your Mr. Right!
I’ve found him yet! (eh jadi curhat..)
aniwei, review yang keren Fan…
beginilah cinta, deritanya tiada akhir..
ceritanya keren… menarik…
bagus bagus
Wah, jadiin nopel…. atw sinetron, eh gak usah ding. Klo jd sinetron ntar jadi kelamaan, mending pilem aj
Comment dulu baru baca…
cintanometer ?? bisa jadi judul TAâ„¢ tu…
Fan, dimana gua bisa beli CINTANOMETER ini?
I’m desperate nih
orang orang yg desperate memang kepengen punya…
termasuk yg punya blog..
huahaha…
*kabur ah*
zzzzzzz….. *tertidur pulas didogengin mba fany*
jadi ceritanya pengen punya cintanometer nih?
pinjem bukunya!!
hehieiehiehe
iya ga seru fan, ga ada dag dig dug nunggu dia onlen dan telpon
‘..cocok neh buat yg gendhut2..’ tau aja aLe bth yg bgtitu
hihi.. jd malu.. *Mode GR : on*
‘Tidak ada lagi seorang pemuda/gadis yang harap-harap cemas menunggu datangnya idaman hati’ santai aja Fan, gak usah cemasin aLe
Setuju ama Mabk Fany, enakan dari hati. Cinta itu terasa nikmatnya saat proses. Kalo hasil tanpa proses rasanya hambar.
(:((:((
Tapi kenapa ya, akhir dari proses gw gagal terus…
duuh… tentang cinta
Hambar…
emang cinta apaan siy??? somebody tell me plz…
wah keren banget fan… sapa tau artis terkenal ternyata cinta ama gw
bagus sekali ceritanya mbak
kok kayak perang bratayudha, eh ini soal cinta yaa..mmmm berarti aku saalah masuk koment neeh
wah cerita nya seru banget, kalo aku mending ga pake tu alat, rasanya lebih seru n ada butterfly effectnya (bener kata mbak)
*Hapuskan cintanometer dari daftar barang yang akan dibuat*
Cintanya jadi dak seru, kalo pakai cintanometer…
Ada tera ulangnya gak tuh? Maklum Indonesia, apa-apa dicurangin…!!
walah, fan.. mana enak sih kalo ada alat yg begituan? btw, yg bener handsfree buat hape. bukan handfree kaleeee
Cinta itu apa Fan? **sampai saat ini masih penasaran banget dengan yang namanya cinta**
to the point…
fan pinjem bukunya
hmm kalo dilihat dari komennya kelihatannya banyak yg perlu cintanometer ya. Memang terlalu banyak feature jadi membuat cinta kehilangan maknanya. mungkin proses menuju cinta lebih berkesan daripada cintanya sendiri.
Aku? gak merasa perlu deh. kelihatannya udah pasti ditolak sih. (^_^)v
Wah boleh juga tuh cintanometer, jadi bisa ketauan kalo ada cewe centil yang mo ganggu suami orang dah keburu ketauan hihihi…. jadi bisa buru2 digebukin orang sekampung
pil anti lapar (cocok neh buat yg gendhut2)
pesen satu bisa ndak :p
jadi, pil anti laparnya beli di mana?
pesen dong!
*saalh fouks*
loh loh di…t dit… dit..
berbunyi? kok bunyi??
jadi? selama ini faniez juga cinta ama aku?
waduh kabuuuuurrrr!
waaahhh… aku lebih suka cinta yang datang karna apa adanya mbak, setiap halkan butuh proses, naaah prosesnya itu yg buat kita bisa menghargai apa yang kita dapatkan…
tadinya mo baca…
tapi jiper juga udah diingetin panjang gitu
memang ada hal2 di dunia ini yang lebih baik bila merupakan rahasia pribadi…
Halo fan…pa kabar? Udah lama ga kesini.
Mantap bgt ceritanya….kalo gw pasti milih pake ‘hati’ lah. Cinta itu datang dari hati bukan dari cintanometer
puuhh… fanny apa kabar? masih ingat daku? yaiks, tere liye… “mimpi2 si patah hati” ini juga novelku; wah, dr pd ngetiknya panjaaang bgt, gw punya versi pdf-nya, hahahaha
cinta… hanya bisa bilang…. UENAK TNANNNN!!!
pake hati aja deh – tahan banting dan bisa sembuh sendiri kalau rusak
eh, sicintanometer belinya dimana yah? ada nggakd i pasar mangga dua?
kalo yg make cintanometer itu monyet gimana ya ??
pasti seru dechhh hi.2
itu mah cinta monyet ..
Menurutku sih yang paling penting terletak pada “Proses” nya. Yaitu tadi, kalau maen langsung2 aja kadang kita gak menghargai apa itu cinta. *halah*
ga betah baca panjangg
tambah komen biar tambah panjang