Cerita ini berdasarkan (diceritakan ulang dengan bhs suka2-ku) dari sebuah buku kumpulan cerpen yang judulnya ‘Mimpi-mimpi si Patah Hati‘.. (duh kok judulnya gue banget yak :lol: ), oleh Sendutu Meitulan. Aku gak bilang buku ini bagus sih, soalnya kumpulan cerpen, ada yg bagus ada yg enggak.

Oh iya, cerita di bawah udah aku ringkas dengan ‘bahasa’-ku :D Tapi msh tetep panjang, jadi: AWAS, SANGAT PANJANG!!!

[start story]
Tersebutlah sebuah kota antah-berantah yang terletak di gurun pasir nan jauh dari seluruh penjuru dunia. Meskipun begitu, kota ini udah punya berbagai teknologi super canggih. Untuk memanggil hujan, warga tinggal datang minta ke balaikota. Bukan pakai dukun2an, tapi hujan dibuat dengan teknologi super canggih, yang hasilnya beda dengan hujan buatan yang biasa dilakukan dengan pesawat2 saat ini. Tidak hanya hujan saja, di situ bisa tercipta rumah terapung, mobil terbang, pil anti lapar (cocok neh buat yg gendhut2), dan berbagai penemuan super canggih lain.

Tapi pada suatu hari, tiba2 dewan kota mengadakan rapat mendadak, yang sudah tidak pernah dilakukan lagi selama lima ratus tahun terakhir. Tentu ada masalah yang sangat penting, donk..

Ternyata masalahnya karena angka pertumbuhan penduduk kota tersebut stagnan, dan malah mengalami penurunan, yang dikhawatirkan dalam sekian ratus tahun ke depan penduduk kota tersebut akan musnah!

Setelah dibahas, ditemukanlah permasalahannya: pernikahan anak-anak muda turun tajam. Mengapa?
Karena anak2 muda ternyata susah sekali menemukan jodohnya masing2 (duh, kalimat ini juga gue banget :p). Mengapa?
Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. (hihihi…. :lol: ). Mengapa?
Karena mereka malu untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dibilang pecundang!

Lalu dicarilah solusinya, yang akhirnya menetapkan penciptaan alat pendeteksi cinta, yang disebut cintanometer itu. Bentuknya digambarkan seperti freehand untuk HP, yang dipasang di telinga. Alat ini akan memberi sinyal tentang perasaan lawan jenis yang ada di hadapan penggunanya. Jika berkedip atau berbunyi, maka oke (alias cinta). Jika diam saja, ya tidak jodoh. Bahkan semakin hari semakin ada ditambah fitur2nya! Alat ini bisa mendeteksi dari gesture, getaran dari degup jantung, hingga kadar pheromon yang muncul. (ngomongin pheromon jd inget ‘leher’ hihihi, mgkn di postingan laen cerita deh :p).

Semua warga menunggu untuk mendapatkannya, hingga semua memilikinya. Kota itu lalu menjadi lautan cinta. Semua dengan mudah menemukan tambatan hatinya. Di lapangan, di kafe, di mana2 penuh orang pacaran. Seorang gadis yang sebelumnya hanya berani mengagumi seorang pria dari kejauhan, bisa mendadak PD dan mencium si pria karena ternyata cintanya bersambut.

Cintanometer menjadi alat wajib bagi semua orang. Banyak hal yang jadi menyenangkan, tapi ada juga yang tidak menyenangkan. Bagi yang sinyalnya nyala pada orang yang cakep dan memang pujaannya, tentu hal ini anugrah. Tapi jika nyala pada seseorang yang buruk rupa ataupun dibencinya, si pemakai akan langsung kabur menghindar. :mrgreen:

Seseorang yang cantik, bisa saja sinyalnya sering berkedip, karena banyak yang suka, gadis itu bisa memilih pria mana yang diinginkan. Tapi sebaliknya, ironis bagi beberapa orang yang kurang beruntung, karena cintanometer mereka sama sekali belum berkedip. Karena awalnya dikira rusak, mereka mencoba meminjam ke teman yang lain. Tapi hasilnya tetap saja sama, tanpa berkedip2! Jadi tinggalah mereka meranaaa….

Para tetua dewan kota senang, karena ternyata angka pertumbuhan penduduk meningkat, double. Mereka merasa lega karena temuannya sukses. Tapi sebenarnya timbul juga masalah2 lain yang tidak mereka dapatkan laporannya. Misalnya, ada pasangan suami-istri yang bertengkar gara2 mengetahui bahwa si istri ternyata tidak pernah cinta sama suaminya itu. Pernikahan hanya karena harta, materi. Berbagai affair suami dan berbagai aib para istri pun terbongkar dan jadi sumber pertengkaran hebat dalam rumah tangga. Masalah2 itu dianggap biasa saja, karena kan justru lebih banyak orang yang baru menikah karena saling cinta itu belakangan. Dan cintanometer dianggap sebagai penemuan terbaik abad ini.

TAPI, betapapun canggihnya cintanometer itu, ada yang tanpa disadari ‘hilang’ dari kota itu. Kehidupan jadi tidak menarik, sistematis, terukur. Tidak ada lagi seorang pemuda/gadis yang harap-harap cemas menunggu datangnya idaman hati di halte bus, berharap bisa pura2 gak sengaja ketemu trus naek bus bareng. Tidak ada lagi degup jantung kencang saat seorang pria menyatakan isi hatinya pada kekasihnya. Tidak ada lagi syair-syair cinta yang dituliskan untuk memberi sinyal pada pujaan hati. Tidak ada lagi yang namanya PDKT (padahal kan serunya di situ yak hihihi..). HAMBAR.

Lama-lama warga kota jadi lupa apa itu cinta, bagaimana perasaan seseorang saat jatuh cinta… Mereka hanya mengerti apakah cintanometer berkedip atau tidak. Sampai kosakata ‘cinta’ pun terhapus dalam kamus mereka, karena semakin lama tidak ada yang tahu maksudnya. Juga kata-kata yang menyerupai dan biasanya mendampingi si ‘cinta’ itu. Seperti kasih, sayang, rindu, kangen, pungguk merindukan bulan, bahkan jomblo, terhapus semua.

Dan ketika seorang pemuda dari kota lain berkunjung ke kota itu, lalu memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku adalah pengelana hati, datang dari jauh untuk mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” Lalu mereka (warga kota itu) pun menatap pemuda itu dengan pandangan aneh, seperti sedang menatap makhluk dari galaksi lain. Karena mereka tak mengerti, apa itu cinta….
[end story]

Duh capek ketik panjang, berasa bikin dongeng sebelum tidur deh.. :lol:

Moral of the story: jadi, pilih mana, pakai cintanometer atau pakai ‘hati’ saja? Di satu sisi, seru juga ya kalo ada cintanometer. Tapi di sini lain, justru gak seru. Gak ada rasa deg-degan, gak ada butterfly-effect in my stomach saat bertemu si dia, gak ada tersipu2 malu, waaahh gak seru… gak ada yang bisa dikenang.

Itu menurutku, gimana menurut kalian? *kali aja ada yg betah baca panjang* :)