Ini lanjutan cerita jeng-jeng (jalan-jalan) dari postingan part 1 kemarin :) Oh iya, sebagian besar acara jalan2 dihabiskan bersama si Fahmi dan Sumardi (temanku dr Binus). Kalau kemarin tentang angkot, kuliner, dan mall-mall, sekarang part 2: tentang tempat-tempat yang sempet aku datengin. Antara lain Festival Seni Surabaya, Monumen Kapal Selam, Taman Bungkul, Kya-kya di Kembang Jepun, Little Singapore & G-Walk. Dan ke rumah Tyka. *awas, postingan panjang!*

Part 3-nya nanti: House of Sampoerna & Masjid Cheng Ho. Mari ikuti bagian kedua dulu :D

Selama di Surabaya, kebetulan lagi ada FSS, acaranya di Balai Pemuda. Sempet 2 kali ke situ, yang pertama buat liat teather boneka Prancis tapi gak jadi gara2 tiketnya tinggal yg VIP (mahal!). Yang kedua ya buat liat pameran seninya, sekalian ngambil brosur2 di Tourist Information Center-nya [gbr] . Salah satu yang cukup menggelitik orang untuk masuk ke ruangannya, karena di luarnya tertulis “Blue Film” :D Hahaha pengen tau isinya? Klik gambar ini. :mrgreen:

Gbr: pameran1Trus di salah satu ruang pamernya juga terdapat gambar seperti di samping. Ada ceritanya. Jadi itu lingkaran bentuknya kayak kaleng, dan dilapisi bahan dari kaleng2 bekas susu formula [gbr]. Trus ada sapi (yg juga dilapisi bahan kaleng), dan ada kepala2 bayi [gbr]. Di dalam dinding kaleng ada dot bayi [gbr]. Ya gampangnya: menggambarkan bayi2 yang mengikuti sapi, bukan ibunya. Karena mereka nge-dotnya susu sapi (formula), bukan ASI.

Surabaya juga lagi ultah ke-714. Di hari Sabtu-nya (2 Juni), malam hari di Taman Surya (balaikota) ada panggung musik, yang artisnya: Ari Lasso, Nidji, dan PADI! Tapi aku gak nonton, cuma liat si Piyu dkk lagi check sound saat siang bolong yg panas.

Monkasel alias Monumen Kapal Selam.

Lokasinya tepat di samping Delta Plaza (lupa nama jalannya), di pinggir Kalimas. Monumen ini bentuknya memang berupa kapal selam. Katanya sih ini dulunya memang kapal selam beneran, KRI Pasopati yg panjangnya 76meter! Nomor lambung: 410, jenis: SS type Whiskey Class, dibuat di Vladiwostok-Rusia (th 1952). Spesifikasi lengkap: lihat gambar ini.

Kalo mo berkunjung ke Monkasel ini disarankan sore hari, soalnya di dalemnya panass! Tiket masuknya cuma 5ribu. Di dalamnya terdapat torpedo kapal selam, trus ada ruang tidur komandan yang besarnya gak nyampe 2×2 meter! Buat perwiranya cuma berupa semacam bangku2 yang bisa buat tidur. Dan banyak sekali alat2 yang tentu asing bagi kita. Trus alat periskopnya (eh apa ya namanya?) juga masih aktif, walau gak berfungsi dengan baek. Kalo ngintip di situ bisa liat hotel sahid, tapi gak bisa liat orang2 di dalemnya pada ngapain… *halah!* :mrgreen:

Gbr: MonKaSel

Di dalam kompleksnya juga terdapat ruangan Video Rama. Itu ruangan buat muter film tentang kapal selam (kalo gak salah). Di depannya ada jam2 tayangnya. Sayangnya pas ke situ jam tayang selanjutnya masih lama, jadi gak nonton deh. Trus kalo malem, kita bisa liat jembatan kalimas (depan Hotel Sahid) itu penuh lampu. [gbr].

Taman Bungkul

Taman bungkul ini letaknya di jalan Raya Darmo. Taman kota ini baru aja selesai direnovasi Maret lalu yang menghabiskan dana lebih dr 1M dari Telkom, luasnya sekitar 900m². Pas kemarin ke situ sih rameee banget, jadi gak keliatan bagusnya deh dan gak sempet moto2. Padahal kalo dibayangkan pas lagi sepi kayaknya menarik juga buat foto2 :D

Di situ ada area buat extreme sport (skateboard dll), bisa duduk2 aja, dan bisa internetan gratis, karena ada wifi-nya! Tapi soal keamanannya sih belum tau deh gimana. Semoga aja gak kayak taman Monas yg menurutku gak terlalu aman itu.

Little Singapore & G-Walk

Gbr: Merlion @ Little SingaporeHehehe tadinya mo membohongi kalian, dengan bilang kalo aku habis ke singapore :P Di Surabaya barat ada daerah (kota satelit) yang didesain seperti singapore. Punyanya Ciputra (CitraRaya). Letaknya deket Unesa (Univ Negeri Srby), deket Supermall Pakuwon jg. Juga ada patung Merlion-nya, seperti gambar di samping. Di situ ada perumahan mewah dengan segala fasilitasnya. Pokoknya daerahnya keren deh, apalagi tata lampunya!

Gbr: G-walkDi area situ ada juga yang namanya G-Walk. Jadi itu berupa jalan, dan di sepanjang jalan itu ada resto, rumah makan, cafe. Di separuh bagiannya suasananya kayak Kemang gitu, resto/cafe nya agak elit. Tapi di sebagiannya lagi mirip di Kelapa Gading (gading batavia), ya rumah makan biasa berjajar-jajar gitu deh. Di G-walk, mobil boleh masuk area jalan itu dan parkir di depan2nya, juga di bagian pembatas jalur yang sudah didesain sedemikian rupa. Beda sama Kya-kya yang akan dibahas di bawah.

Kya-kya dan Jalan Kembang Jepun

Gbr: At Kya-kyaLokasinya di bagian utara Surabaya, dekat Jembatan Merah. (jadi inget novel Kembang Jepun yang baru aku baca, next time aku share). Jalan Kembang Jepun itu kalo siang jadi wilayah perdagangan, di sepanjang jalannya terdapat toko2. Nah kalo malem di atas jam 6, jalan itu ditutup, mobil gak bisa lewat. Ditutupnya itu karena jalannya dijadikan tempat yang namanya Kya-kya. Si sepanjang Kya-kya itu terdapat warung2 tenda yang menawarkan berbagai makanan. Di tengah jalannya terdapat meja-kursi tempat makan untuk pengunjung. Mobil2 yang dateng bisa parkir di ujung jalan kembang jepun itu.

Kalo pernah ke daerah Waroeng Semawis di daerah Pecinan Semarang, ya kayak gitu, TAPI jalannya lebih lebar dan lebih bersih.

Ketemu Blogger

Gbr: Di rumah TykaSebenernya janjian buat kopdar bareng, tapi karena ternyata besoknya aku ada acara sama temen yg laen, jadi aku+fahmi+sumardi yang nyamperin Tyka si english teacher itu di rumahnya. Di sana sekalian transfer2 file foto ke flashdisk :D

Sebenernya masih banyak tempat2 laen, kayak ITS (ke asramanya temenku) dan lain2. Tapi kayaknya gak penting hehe… So, part 3 (end) nanti ada bahasan ttg House of Sampoerna dan Masjid Cheng Ho aja… ;)