Birokrasi Gak Jelas
Sat, December 16, 2006 | On: General
Sat, December 16, 2006 | On: General
Setelah spidi skrg beres, skrg ada hal yang masih belum beres!
Sudah banyak yang bilang bahwa birokrasi di negara ini bener2 bikin CAPEK. Ya capek hati, capek kantong, capek tenaga. Tadinya aku gak peduli, karena urus ini-itu biasanya pakai calo, hehehe..gak mau repot, nambah duit dikit gpp lah, seperti saat mengurus SIM dan paspor. Tapi saat ini, aku dan ayah mencoba ngurus sesuatu sendiri, tanpa bantuan calo, dan krn memang tidak semua urusan bisa lewat jasa calo. Aku jadi tau bagaimana rasanya capek-karena-birokrasi
Ceritanya, aku sedang mengurus hal2 untuk revisi atau(?) memperbarui ijin usaha. Urusannya via departemen xyz (sebut saja begitu). Di sana, katanya sebelumnya kami harus urus ijin A & B (lagi2, sebut saja begitu), seharusnya sekitar 2 bulan kelar. Tapi, sekarang sudah berapa bulan? 5 bulan! Kagak kelar2! Katanya kalo mo cepet harus nambah biaya. Oke, biaya sudah ditambah. Hasilnya? Nol! Orang yang bagian ngurus itu ditelponin gak diangkat2, trus aku dateng ke kantornya, eh udah pulang. Wuih enak banget ya pegawai di situ, jam 2an udah pulang!
Padahal ini baru langkah awal
Harus berapa lama lagi nunggu birokrasi-birokrasi gak jelas itu?!! Kata temanku, sekarang gak bisa hanya modal duit, tapi juga harus modal koneksi (nepotisme). Jadi kalo kita ini bukan siapa2, bukan sodaranya pejabat A, bukan kenalannya pejabat B, ya tetep bakalan lama urusannya..
Haduh….
Memang ada sih kerabatku yang pejabat ini-itu, tapi rasanya gak enak kalo mo minta tolong.
Pantesan ekonomi di negara kita gak bisa berkembang pesat. Yang bisa mulus jalan usahanya hanya pengusaha kelas atas, kenalan baek si pejabat ini-itu. Padahal banyak usahawan kelas menengah (atau ke bawah) yang juga kreatif menciptakan lapangan kerja. Tapi sayangnya untuk berkembang lebih maju -lagi2- harus terbentur birokrasi. Kalo udah jalan usahanya, pengusaha dan karyawannya harus bayar pajak ini-itu, tapi gak jelas hasil dari bayar pajaknya tuh digunakan untuk apa oleh ‘yang nagihin pajak’. PS: saya coret sthl ‘denger’ penjelasan Mas Preakz. Tambahan: sebelum buka usaha memang harus ijin, tapi misal kalo usahanya buka warung es apa perlu ijin ini itu dulu? (kecuali retribusi dan ijin RT/RW). Nah si pemilik ini biasanya baru akan ngurus ijin usaha kl usahanya udah akan berkembang jadi resto. Begitu bukan?
Pak SBY bilang, perbankan jangan persulit UKM. Oh perbankan cukup kooperatif kok, Pak. At least dalam kasusku dan bbrp kenalanku. Yang gak kooperatif itu ya yang ngurusin birokrasi itu! Udah dapet pinjeman bank, udah jalan usaha kecilnya, pas mo berkembang (sehingga perlu ijin usaha), eh urusannya lamaaaa di perijinan. ![]()
December 16th, 2006 at 12:55 am
hiyaaaaa
pertama kah?
December 16th, 2006 at 12:55 am
denger-denger di singapur ngurus ijin usaha cuman seminggu..

buka usaha disana aja fan.. sekalian jalan-jalan
December 16th, 2006 at 1:48 am
Ijin usaha apa nih?
Setahuku, ngurus perikinan itu satu atap di Kantor Pelayanan Perijinan setiap Pemda? Atau jangan2 fanny salah kamar eh kantor? atau malah …
Pajak? (DHUAR kesinggung gw) hahahaha …
Meluruskan:
1 - Pajak tidak dtagih tapi dihitung sendiri
2 - Yang bayar lahan penampngan buat naruh sampah buangan fani tiap hari itu siapa fan?
3 - Yang bayar presiden sapa?
4 - Yang bayar utang negara siapa?
5 - Ijin usaha bukan dibuat ketika usaha mau berkembang tapi seharusnya SEBELUM mulai usaha.
Ga usah bayar pajak fan, kalau nggak mau, cari aja negara yang tanpa pajak.
Tahu nggak fan, kadang kita salah, tapi kita nggak tahu, lantas menyalahkan orang lain. Orang birokrasi yang fani ceritakan itu salah. Karena mereka tahu fani salah, jadi dipermainkan.
December 16th, 2006 at 1:58 am
nambahin fan
semua orang berpenghasilan wajib dikenakan pajak, tapi tidak semua harus membayar, kalau memang penghasilannya di bawah nilai tertentu ..
lagi fan, baca dulu
December 16th, 2006 at 2:31 am
teringat waktu bikin paspor pure sendiri, lebih dari dua dua minggu dengan penuh cobaan dan godaan…
*masih bangga*
December 16th, 2006 at 4:05 am
“Thinking out of the box” mungkin itu yang bisa digunakan untuk melawan birokrasi. Contoh sederhana, birokrasi itu pasti ada urutanya nah kita jadikan senjata aja hal itu. Ketika bapakku ngurus sertifikat tanah, semua syarat sudah di jalankan baik syarat yang tertulis maupun yang tidak tertulis(baca=tidak jelas). Namun the result still “nonsense”. Akhirnya bapakku punya inisiatif untuk membenturkan topologi birokrasi itu sendiri.
Pada waktu itu untuk mendapatkan tanda tangan camat harus ada tanda tangan lurah dahulu, nah bapak tidak mau mengikuti prosedur itu. Dia langsung ke kantor kecamatan menemui Pak camat. Dengan memakai bahasa yang “Santun Banget” (Tau lah kriteria santun dalam budaya jawa” ) akhirnya Pak Camat menorehkan tanda tanganya. Dan… perbenturan topologi birokrasi terjadi… orang2 kelurahan pada bengong semua.. gimana lurah tidak mau tanda tangan lha wong pak camat aja sudah tanda tangan kok :). Keluar dari kantor kelurahan sambil ngeliatin pegawai2-nya yang haus duit seperti singa kelaparan.
December 16th, 2006 at 4:29 am
Tapi di Sragen bisa cepet lho birokrasinya, paling lama (kalo urusannya lebih berat) seminggu. Kalau ga salah ada beberapa daerah lain juga begitu.
December 16th, 2006 at 6:32 am
December 16th, 2006 at 7:26 am
Hm, saya nggak tahu sih dan belum pernah mencoba untuk mengurus hal-hal seperti itu, tapi emang kalo denger2, masalah birokrasi++ (yah tambahannya seperti duit dan sebagainya) selalu ada di dalam keperluan apapun di Indonesia. Misalnya adik saya yang harus bayar dua puluh juta buat pindah sekolah ke jakarta. Masa sih pindah sekolah harus bayar semahal itu? Kata kepala sekolahnya, itu buat ngelancarin di “atas-atas”
Jadi seperti itulah gambaran umum Indonesia, Meski nggak semuanya seperti itu. Menyedihkan. Kita tidak bersaing dalam kompetensi, tapi bersaing dalam kolusi dan nepotheisme.
December 16th, 2006 at 9:42 am
ngurus ijin opo to mbak? arep dodolan wingko? opo dodolan bandeng presto? opo malah buka sego kucing?
December 16th, 2006 at 10:45 am
Wah…apa yang dikatakan mas dendi aku juga pernah dengar, malah untuk ngurus2 tidak lebih dari seminggu kalo di luar negeri. Emang sampai sekarang pun menurut saya dinegara kita birokrasi yang tlalu panjang dan berbelit-belit harus dibuat ringkas, efektif dan efisien..ya nggak pren?
Sebenarnya instansi2 itu udah punya aturan melalui sistem ttg apasaja yang harus ditempuh, namun menurut hemat saya justru sistemnya itulah yang perlu dibenahi lagi biar birokrasinya efektif dan efisian bagi masyarakat banyak. Salam kenal ya.
December 16th, 2006 at 10:55 am
ehe..lama ga pernah blog walking eh ada yng dikitbagus nih ternyata,,,
begini fan, dari dolo juga namanya birokrasi di indonesia itu memang gitu.jangan sampai ketinggalan soal bobroknya birokrasi kita ini. kasus fanny ini adalah di tingkat level yng sudah jalan pada sebuah birokrasi. itu mah dah biasa duit pada ujungnya, dan harus bagaimanakah kita dengan semua itu? itu pertanyaan mendasar untuk semua orang di negara kita ini fan!!!
ubah birokrasi adalah jawaban utama. dengan??? nah dapat lagi deh pertanyaan mendasar juga.dan berbagai cara telah di lakukan dan di tempuh dengan pemikiran2 yang tak kalah hebat dan ketegasan yang berimbang kuat dengan busuknya manipulasi birokrasi itu. tapi sayang dengan semua itu fan, karena semua instansi di indonesia ini saling berkait, dan semuanya juga tak luput dari yang namanya setan KKN.tapi jangan nyerah deh fan!!! sebagai orang yang terinjak oleh birokrasi begitu trus lawan karena klo tidak ngelawan kita akan hancur sendiri!!! cari usaha tuk ngelawan!! serah apa usaha fanny. tuntut pejabatnya atau apa kek,,, eh udah dolo supportnya….bravo fanny!!!
December 16th, 2006 at 11:55 am
birokrasi yang aku pakai skalanya kecil sih jadi gak terasa bermasalah sebenernya. tapi sedikit ngasih tahu aja pada Brahmasta, kl pindah sekolah tuh gak bayar dan gak ada yang perlu diurusin selain surat pindah dari sekolah lama, kl sampe suruh bayar, minta aja kwitansi pembayarannya dan bikin pengaduan tertulis ke dinas pendidikan setempat. (adekku juga pernah mau digituin tapi kt minta kwitansi dan jadinya malah batal mbayar. he he he)
December 16th, 2006 at 12:24 pm
hm iya kadang kesel juga ngurus sim,paspor,dll mesti berlibet2 klo ga ada calo. entah knp disini slalu ada ‘biaya tak terduga’ (baca: uang siluman) hahahaha..
December 16th, 2006 at 1:03 pm
Birokrasi kita adalah tumor ganas yang menggerogoti Indonesia. Watak birokrat kita bukanlah melayani, tapi ingin dilayani. Itulah alasan kenapa banyak orang ingin jadi pegawai negeri.
Saya juga punya pengalaman menghadapi birokrasi yang rusak ini. Saya tulis di blog saya. Silahkan berkunjung jika berkenan.
December 16th, 2006 at 1:30 pm
Lembaga ombudsma mungkin bisa membantu Fan. Tanyakan prosedur yang benar pada mereka. Jadikan acuan ketika meminta hak ke birokrat Pemda.
apa yang dilakukan taufik yaitu membenturkan birokrat mungkin bisa dijadikan alternatif. Teman saya pernah seperti itu, malahan membenturkan sekretaris daerah dengan GUBERNUR!
December 16th, 2006 at 1:35 pm
selamat datang di ENDONESAH, mbak Fanny..
Tanyaken.. Apa?
December 16th, 2006 at 1:37 pm
[…] Secara gamblang dalam Undang-udang itu disebutkan jenis pengenaan apa yang bisa dipungut oleh Pemerintah Daerah dan segala Peraturan Daerah yang dipakai untuk menarik retribusi dan pajak daerah harus dilaporkan ke Pusat. Segala jenis pungutan dalam permohonan perijinan apapun sesungguhnya adalah pungutan liar. Tidak disebutkan dalam undang-undang tersebut bahwa Pemda berhak menentukan besaran biaya administrasi untuk urusan apapun termasuk KTP. […]
December 16th, 2006 at 2:13 pm
nyogok aje Fan ::kaboer::
December 16th, 2006 at 2:33 pm
Lho, itu memang biro tersendiri dan dibikin khusus di tiap instansi.. biro.. krasi hehehe. Diopen aja xyz nya itu apah, pusing emang ngehadepin wereng coklat -_-
December 16th, 2006 at 3:19 pm
fany…
jadi ke singapur?
katanya mo ngurus ijin usaha disana??
*kata siapa Jeng? ngaco lu :p *
December 16th, 2006 at 4:50 pm
heiii…. fanny….. ini pertama kalinya manggil gak pake mbak. jangan panggil aku mbak juga ya… hehehe…..
December 16th, 2006 at 4:52 pm
Emang indonesia ini negara yg NJLIMET.
Bisa lancar kalo ada uang pelicin.
Mau dibawa kemana nih negara?
December 16th, 2006 at 5:44 pm
duh Fan keknya ribet banget ya? untung aku gak pernah berurusan dengan hal yang seperti ini. but maybe someday I will, gotta prepare for that.
BTW aku gak pernah nulis buku
December 16th, 2006 at 6:39 pm
IDIH!
KENAPA TAKUT PAKE ABC DEF GHI JKL SEGALAK SIH?
KALO MEMANG PENGALAMANMU SEBURUK ITU, TULIS AJA….
MEREKA-MEREKA (ORANG-ORANG DI PEMERINTAHAN) MEMANG SUCKS KOK!
December 16th, 2006 at 7:47 pm
itulah Indonesia… *menyanyikan lagu dari sabang sampai merauke*
December 16th, 2006 at 10:22 pm
wah.. harus siapkan banyak sabar kalo mau ngurus hal-hal berbau pemerintahan ya
December 17th, 2006 at 12:13 am
remember.. remember..
the fifth of november
apa mau dibikin kayak cerita di film v for vendetta?
December 17th, 2006 at 12:30 am
Eh katanya Pak JK akan menghukum owner Bank jika tidak mau mengucurkan dana ke UKM..
December 17th, 2006 at 9:18 am
ngg.. jadi inget iklan-nya A-mild ‘Tanyaken.. Napa?’ setau saya gak hanya di pemerintahan yang mbulet seperti itu, kadang2 saya ngerasa di dunia pendidikan jg kayak gitu. Seorang mahasiswa mo minta transkrip-nya ke BAA di salah satu PT, disuruh ngurus ini itu dan anu-anu yang ribet, tapi mo gimana lagi, emang harus gitu sop-nya
tapi kalo kasusnya mbak Fani ini.. Indonesia GITULO
December 17th, 2006 at 3:40 pm
#fany
iya, aku memang selalu sewot kalo masalah ginian. Masalah masa depan Indonesia yang kaya gitu menjadi perhatianku banget2.
December 17th, 2006 at 4:23 pm
ya ya ya, Indonesia indonesia, ga ada habisnya, harusnya gimana yah, menyingkirkan orang orang yang malas malas kerja, maunya di upah, padahal udah di gaji, ngga cukup ? minta nya ke rakyat, ngurus apa apa pasti ada “uang administrasi” ngurus katepe “kartu kalau kita ini rakyat Indonesia saja” harus bayar.
Klasik….orang2 gitu harusnya di binasakan aja
December 17th, 2006 at 6:44 pm
hmmm… *dah capek bahas ginian*
December 17th, 2006 at 8:36 pm
bersusah - susah dahulu..bersenang - senang kemudian
December 17th, 2006 at 8:45 pm
#fany
masih kesel. Iya, memang ga semua kaya gitu.
hanya 99%
December 17th, 2006 at 9:26 pm
indonesia raya, merdeka merdeka, hiduplah indonesia raya…
negara makin ampas aja.
eh btw emang gimana cara ngurus ijin usaha?
December 17th, 2006 at 9:38 pm
Setojohh ma didats tuh… ga usah pakek inisial segala deh… tulis yang lengkap dan jelas sekalian… kalo perlu nama oknum-nya sekalian pangkat, alamat rumah dan nomor telponnya ditulis juga yang jelas (itu kalo ada oknum yang bikin birokrasi semakin ruwet loh :p)
December 17th, 2006 at 10:10 pm
Sistem di Indonesia memang benar-benar korup dan kacau. Benci dan kritiklah pada sistemnya, jgn benci pada negara kita, karena kita bagian dari Indonesia.
Mereka yang melakukan praktek2 KKN dalam birokrasi pemerintah mungkin dulunya juga mempunyai idealisme yang tinggi dalam cita2nya merubah Indonesia. Semoga generasi muda kita tetap bisa menjaga diri agar tidak berkompromi dengan KKN dan birokrasi busuk ala Pemerintah
December 17th, 2006 at 11:57 pm
sini tak tanda tangani aku aja cepet, gratis lagi
birokrasi gak jelas kan tms identitas indonesia tercintah…
December 18th, 2006 at 12:48 am
indonesia gitu loh …..
@PriyayiSae: dikasih baby oil juga bisa licin loo
December 18th, 2006 at 1:22 am
hughh memang sdh terkenal dimana2 kalo birokrasi negeri kita tercinta tu masih njelimet, amburadul berbudaya KKN!!!
upsss lupa aku kan jg ‘abdi negara’ bagian dr mrk????
maaf ya mbak, terus trg hal2 sprt diatas mmg msh srg terjadi… temen2ku, kk’ kandungku bhkn aku sendiri pernah mengalami nasib serupa, ktk sdg mengrs sstu tp beda instansi (kbtln aku jg PNS)… gk tau ini penyakit sdh berakar??
tp betul mbak jangan di pukul rata, gk semuanya bgt, masih ada ko’ PNS yg berjiwa reformis,’i hope i do so’, mudah2an, amin.
December 18th, 2006 at 8:25 am
makanya indonesia kagak maju-maju, Fan
btw, thx atas komennya
December 18th, 2006 at 8:41 am
Saya dulu banyak berurusan dengan pemerintah dan memang untuk urusan publik kita masih jelek tapi kalau sudah menyangkut investasi jutaan dolar, biasanya lebih responsif….pasti lancar
December 18th, 2006 at 9:39 am
*tarek nafas dalem*
Dah, ah..
Kalau mau nyeritain kinerja pemerintahan gag akan ada habisnya, kecian kan yg fakir benwith..
*lirik2 si ehem*
December 18th, 2006 at 10:15 am
aduh fan…. pusing gw baca comment2 nya :D. Sabar aja.. ada pepatah bilang bersusah susah dahulu baru bersenang-senang kemudian, hehehe. Tetep aja gregetan yach !! huhehehe.
December 18th, 2006 at 11:28 am
krena birokrasi itulah kmrin saya putuskan untuk ngga ngurusin lagi npwp saya, capek disuruh bolak balik berkali kali ke kantor pajak, tiap kali datang ada ajah yg kurang, sebel.
December 18th, 2006 at 12:11 pm
ketik c spasi d : “cape deh…”
December 18th, 2006 at 12:26 pm
kenapa sih dibikin ribet?
>> (mungkin) supaya kita pake jasa calo/nyogok
kenapa sih dibikin banyak meja?
>> (mungkin) supaya tiap meja kebagian kerjaan? harus ada banyak orang untuk mengerjakan sesuatu (yg benernya bisa dikerjakan satu meja)
kenapa ga dibikin efisien n simple?
>> $&%(*#&(*&@)(*&%*(
enak kali yah kl ada list yang ngasih tau publik yang isisnya:
jasa A/dokumen yang diperlukan/waktu pengerjaan/biaya(kalo ada)
trus bisa diakses online, trus sosialisasinya bagus (jadi semua tau).
jadi ga buang-buang waktu untuk ngantri, nunggu ttd ini itu, marah-marah karna ga kelar2 hihihihi *mimpi ga yah?*
piss ah..
December 18th, 2006 at 1:43 pm
Saya pernah ngurus birokrasi mau wisuda dan sidang skripsi di kampus, harus keluar duit sampai 2 juta rupiah! Mulai dari bayar iuran perpustakaan sampai bayar foto wisudaan…
Ngurusnya seminggu da kelar2…
Anj*&*%&#$!!!
December 18th, 2006 at 1:43 pm
Untung gue belum punya usaha sendiri:),tapi ga semua instansi kok.
December 18th, 2006 at 6:52 pm
pegawainya kan pns, masuk pnsnya nyogok.
nah itu semua harus balik modal tuh, jadi salah satunya yah…harus dibikin ribet gitu biar kecipratan semua.
December 18th, 2006 at 8:21 pm
Pake kartu PERS aja fan, dijamin beres!!!
hehehe…
(serius) kamu mending fan masalah bisnis, yang masalah kesehatan saja busyet!!!! nggak bikin sehat malah bikin modyar!!!
bayangin tuh, jamsostek: pelayanannya NGAWUR dan banyak KORUPTOR, kartu miskin: Ketika dibutuhkan harus administrasi lagi yg muter dan belibet, wong jelas yg namanya org dapet kartu miskin ya emang miskin, mosok ketika mau digunakan harus minta surat tanda bukti miskin lagi, GOBLOK!!! , BLT ambil uang 100rb aja sampek meninggal dll.
Menurutku kamu masih untung fan hehehe, udah ah ngomongin ini bikin dosa, mending lakukan (jihad) apa yang bisa kamu lakukan ketika melihat ketidakbenaran dan diam jika kamu emang tidak mampu **kata Rasul**
December 18th, 2006 at 10:34 pm
nah..nah.. ini lho yg bikin seret majunya sektor transportasi dan wisata di Indo meski yang siap terjun dan potensinya gedhe.. btw.. mo buka warung apa to Fan?
December 19th, 2006 at 5:11 am
Kadang-kadang mau ngerjain yang pakai jalan lurus saja susah. Makanya yang jalan bengkok sering menjadi pilihan terakhir atau mungkin yang pertama, biar ngga pusing
December 19th, 2006 at 7:41 am
Emang bener Fan dimana2 kl yang namanya milik pemerintah itu administrasinya pasti lamaaaaanya minta ampun!!
kayak gw nih, kuliah di PTN tapi lulusnya lamaaaaanya minta ampun!
December 19th, 2006 at 8:42 am
semua memang serba ngga jelas
December 19th, 2006 at 10:06 am
Untuk negeri ini yang tercinta, baik manusia yang berada di dalam system or outsiders , civil or private yang semakin kental sikap yang tidak (kurang) jujur dan ikhlas akan pekerjaannya demi memenuhi kebutuhan, makin korup dan amburadul. Hal yang haram dipat gulipat menjadi ‘halal’. Kebiasaan memarkup sesuatu jadi kalo dapat harga wajar malah bingung. Model tau sama tau, kong kali kong, asal bapak senang dll. So dear fany.. dengan salah satu thread perjuangan kamu ini.. sukur2 bisa membuka hati mereka.
December 19th, 2006 at 2:00 pm
tapi kalo pake pelicin nanti malah kepleset loh…
Setuju Banget Birokrasi di Negeri Ini yang bikin negara ini susah berkembang. Prinsip kalo bisa susah kenapa dipermudah benar-benar di pegang teguh sama aparat Pemerintahan kita
December 19th, 2006 at 4:08 pm
Ya,,perlu satu generasi lagi mungkin, untuk membuat semua hambatan birokrasi hilang…sabar ya cuma nunggu satu generasi lagi kok..
December 19th, 2006 at 6:30 pm
Sabar sabaarrrr….
December 19th, 2006 at 8:24 pm
Halo Fan! Wadoh yang beginian sih gak ada abisnya, aku paling malas ngadepin urusan yang beribet. Mang sih kadang niat ngikutin jalur yang semestinya, tapi seringkali malah dipersulit dan klo dah gitu ya mau gak mau urusan duit juga yang angkat bicara.
Semoga cepet beres ya Fan urusannya.
December 19th, 2006 at 11:08 pm
sebagai keparat birokrasi, saya tersinggung karena situ nulis tentang saya tanpa bilang-bilang. awas ya nanti saya jadikan seleb blog loh …
December 19th, 2006 at 11:58 pm
emang dah akut sakit negri kita ini…sal kita jgn terkontaminasi aja…berapi-api buanget nulisnya :), mantan orator yaa? jadi ikut semangat juga……ayooo turuuunkaaan
December 19th, 2006 at 11:59 pm
hayaaah … ini ndoro kakung sekarang jadi keparat juga ya? lho pake ngancem lagi, ada birokrasinya itu mau jadi seleb.
December 20th, 2006 at 12:08 am
Wis pokok-e nek cah kalao ngomong soal birokrasi… Sy ini juga PNS ning kalao masalah birokrasi suka bandel… nakal makanya tidak pernah “dipakai orang”, Tidak satupun instansi yg luput dari ketidak jelasan… yah paling-paling dipingpong sana-sini. Tapi sapa takut… Birokrasi = Bir - ok - ra’ - sih?
December 20th, 2006 at 8:31 am
birokrasi berbelit belit yah? hmm..itu dibikin susah kan biar ada ‘pelicin’ yang masuk hwhehehehe
December 20th, 2006 at 10:26 am
tanya kenapa???
huehehe itu pas banget kan iklannya…
December 20th, 2006 at 11:22 am
di BOOM wae,aku ada molotov..!!!!
December 23rd, 2006 at 6:29 pm
Justru sepertinya birokrat di sini lebih lunak lho mbak. Asal ada uang lebih, ato kenal dekat lah, ato surat sakti lah… beres. Semua bisa diatur, semua aturan2nya bisa diperlunak -kalo ga bisa dibilang dikesampingkan sama sekali-
February 24th, 2007 at 5:06 pm
[…] Dulu saat aku masih kerja di Jakarta, sabtu aku gunakan untuk jalan2, dan minggu kadang istirahat saja di kost. Sekarang? Weekend atau work days rasanya tidak jauh berbeda. Soalnya aku gak punya jam kerja tetap seperti orang kantoran. Mau jalan2 di hari kerja juga bisa, mau kerja di saat weekend juga sering terjadi (seperti saat inih!!). Untuk sementara, kerjaan kantor di rumah masih ringan2, yang berat belum terjadi karena birokrasux sialan ituh! Kadang ingin lapor aja ke KPK, atau nulis Surat Pembaca di koran, tapi gimana ya… Hal2 kayak gitu udah tau sama tau semua! Lagian gak pengen cari masalah buat orang rumah juga… serba salah! […]
May 27th, 2007 at 12:19 am
[…] seperti apa, berapa lama ngurus pencairan dananya. Untuk hal-hal yang bakalan menguntungkan negara, seperti buka usaha aja ribet , apalagi untuk hal-hal yang bakalan menguras uang negara […]
July 11th, 2007 at 9:47 am
lagi kesengsem sama blog-nya faniez nemu ini…
+
Pantesan ekonomi di negara kita gak bisa berkembang pesat. Yang bisa mulus jalan usahanya hanya pengusaha kelas atas, kenalan baek si pejabat ini-itu
+
Jadi teringat cerita bossku, duluuu… banget jaman kakek harto, waktu nganter mbak Tutut, jalan2 pake helipkoter di temani pak gubernur tentunya, di suatu tempat di Lampung karena ceritanya mbak Tutut ingin buka lahan kelapa sawit, yg dilakukan cuman begini “Mana Petanya” peta dikasih “Lalu mbak Tutut ambil spidol atau bolpen? bikin lingkaran di Peta itu, sambil bilang “Aku Minta yg ini ya…!” Weeeks… dan herannya gak sampe 1 bulan lahan itu dah siap pakai….
Trus tanggepan buat Preaks
+
3 - Yang bayar presiden sapa?
4 - Yang bayar utang negara siapa?
+
Itu bukan dari PAJAK bang…. negara kita hidup dr kekayaan alam, soalnya kalo negara kita hidup dari pajak.. pastilah negara kita akan sangat menghargai rakyatnya, kaya’ di negara Amerika sana misalnya…
Apalah artinya rakyat lha wong negara bisa hidup tanpa mereka, iya kan?
Kalo negara hidup dari pajak, pasti gak akan ada tuh kasus penembakan aparat TNI ke rakyatnya, karena rakyat bisa marah trus ndak mau bayar pajak so.. TNI gak akan bisa idup lagi TUL KAN??
IndonesiaL hidup dari kekayaan alam bukan dari pajak, ingat negara kita warisan kerajaan dan kumpeni.. nggak ada yg namanya pajak = yg ada adalah UPETI..!!! wong kita disebut sebagai “WAJIB PAJAK”