Selasa lalu, aku dan teman-teman dari Loenpia, ditambah 2 warga Unnes, dan 2 bule dari belanda (Jessica & Elen), mengikuti kegiatan peduli lingkungan. Informasi dan ajakan didapat dari Mas Adi.
Rencana keberangkatanku hampir gagal, soalnya aku harusnya disamperin
Fian, eh malah rantai motor Fian putus di tengah jalan. Akhirnya aku yg harus nyamperin Fian di jalan hehe.. Untung jadi berangkat. Lalu menuju starting point di pelataran Taman Lele. Wew, jauh juga ya dari rumahku

Dari Taman Lele, lalu masuk ke jalan (gang) di depannya persis, luruuss terus sampe mentok. Sampai deh kami di Jalan Tapak, daerah Tugurejo.
Tujuan kami adalah ke Pulau Tirang. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati semacam rawa (?), lalu naek perahu di sungai, lalu laut kecil (?) pokoknya gt deh, kayak di tipi2 jejak petualang gitu hihihi… Asik deh
Dan sampailah kami di Pulau Tirang tersebut.
Program ini dibiayai oleh Bapedal, untuk menyelamatkan P Tirang dari ancaman abrasi. Jadi pulau tersebut udah hampir ‘tenggelam’ gitu deh, dari luas aslinya, kini tinggal sepertiganya
Acara dimulai dengan berkenalan dulu sama salah seorang petani koordinatornya gitu, Mas Rofik. Lalu dia memberi briefieng ke kami. bibit tanaman bakau yang kami tanam dari jenis Rhyzophora Mucronata . Katanya ini cocok ditanam di iklim panas kayak di Indo gini. Gambar di bawah ini kira2 how-to nya secara singkat. Di-edit dari blognya boku_baka, soalnya ada keterangannya yg menurutku kurang tepat
Lalu mulai deh acara tanam-menanam. Berpanas-panas ria. Berkotor-kotor ria. Yang katanya, kalo gak ada noda ya gak belajar

Cuaca saat itu memang cukup terik, sehingga pulangnya agak gosong2, secara aku udah lama gak panas2an

Di tengah acara dapat makanan kecil buat ganjal perut dari Bapak-Ibu Bapedal, lalu kita disuruh tanda tangan berita acara gt. Pas aku lagi tanda tangan, eh si Bapak itu bilang, “Wah bagus nih cara megang bolpennya, kamu pasti orangnya penuh semangat ya dalam menggapai masa depan.” Ohh jelas harus donk, Pak..
Acara selesai kira2 jam 12an siang. Lalu bersih2 di rumah Mas Rofik, leyeh2 di teras rumahnya bentar, dan makan bakso di deket Ngaliyan deh. Tangan dan kaki udah lecet2 semua hihihi… Di pantai itu tanah lumpurnya banyak terdapat keong2 mini/kecil. Buanyaak banget, dimana kaki berpijak, disitulah mereka terinjak *halah*. Jadi telapak kaki pun perih2.
Menyenangkan sekali kegiatan seperti ini. Gak hanya untuk refreshing dan senang2, tapi untuk melestarikan lingkungan. Thanks to Anhar yang datang telat (serasa VIP naek perahu sendirian), trus meliput kegiatan kami
Foto lebih lengkap, termasuk temen2 yg pd nanyai fotonya si bule2 cantik itu ada di SINI. Artikel terkait, ada di blognya Budi, Dendi, Fian.
Artikel liputan di koran Suara Merdeka, ada di sini.