Mmm.. aku heran deh, kenapa ya para penulis (biasanya wanita) novel chicklit atau novel2 pop culture jaman sekarang selalu membuat tokoh utamanya (dan/atau tokoh2 lain) bekerja di bidang media. Gak semua sih, tapi sebagian besar yang aku baca kayak gitu. Dan itu bikin aku agak2…bosan. (Oh iya, tulisan ini hanya uneg2 pribadi saja yah :) ).

Ada yang tokohnya editor, script/copy-writer lah, penulis di media lah, dan sejenisnya. Mungkin karena pengaruh dari cerita2 luar kayak tokoh di Sex and The City. Cerita2 novel tsb memang mengetengahkan kaum metropolitan, tapi apakah sebagian besar wanita metropolitan itu yang menarik untuk dikupas hanya yang berprofesi di bidang media saja? Enggak kan?! Banyak bidang pekerjaan yang gak kalah seru kok, misalnya yang bekerja di perbankan, dunia IT, kedokteran (ini ada sih yg nulis), dsb. Aku kira, itu akan lebih menambah wawasan pembaca deh dibandingkan semuanya berlomba-lomba menampilkan tokoh yang juga seorang penulis.

Kalo semua nulis tokoh yang seperti itu, pembaca (aku sih) juga bosan… Konflik di kerjaannya gak jauh2 beda. Apa karena para penulis tsb lebih mengenal dunia media jadi mereka menjadikan tokohnya pekerja media? Biar gak susah2 riset? Hmm riset di bidang lain juga gak susah banget (seharusnya).

Ah, aku memang hanya bisa ngomong doank. Hehehe.. tapi gpp donk, itu kan masukan buat para penulis dan calon penulis, demi kemajuan bersama *halah* :lol: Kalo si penulis bisa mengetengahkan tokoh dari bidang pekerjaan yang jarang tersentuh novel (IT, misal), trus ada konflik2 cerita yang berhubungan dgn kerjaan bidang tsb, maka pengetahuan pembacanya juga ikut bertambah donk.

Sebenernya ada baiknya sih jika menampilkan tokoh yang senang menulis juga, bisa meng-encourage pembacanya untuk menulis juga. Tapi, dalam kenyataannya kan tidak semua orang suka menulis. Apakah lalu kisah mereka sama sekali tidak menarik?

Ya ya ya… maafkan aku yang hanya bisa ngomong ini :) Karena aku moody sekali, nulis novel itu susah deh buatku *alesyan*. Pasti gak kelar, di tengah jalan bosen atau gak sabar, mandeg deh :?

PS: aku bukan penggemar chikclit kok, hanya membaca beberapa saja yg kebetulan spt di atas. :)

Aku senang membaca yang aku pengen baca. Gak peduli soal review atau kata orang. Dulu sih awal2 masih peduli banget, tp habis itu banyak kecewanya. Jadi ya menurut feeling aja :P Kadang cuma gara2 desain covernya keren lalu aku beli :p
Hari ini aku ke Gramedia, akhirnya… bisa sedikit nyantai di hari Minggu ini :D Rame deh, parkiran penuh :? Dari rumah udah nyatetin berbagai judul. Pas nyampe sana, bbrp gak ada, dan bbrp lagi -dari hasil baca bbrp halaman- jadi batal dibeli karena gak minat sama ceritanya. Hmm salah satu yang batal dibeli ya karena alasan di atas sih. Bukannya nge-judge, tapi aku sudah bilang kan, aku hanya baca buku yang pengen aku baca, dan saat ini lagi gak pengen baca yang tokohnya dari media, bosan. Mgkn next time :)

Akhirnya beli 3 buku dan 1 majalah. Majalahnya apa coba? Majalah remaja kekekeke… Tepatnya majalah cerpen remaja sih :lol: Pengen mengenang masa ABeGeh *halah*, dan buat belajar kl mo bikin cerita ABeGeh.. :D Bukunya yg kumpulan cerita: Sepotong Senja Untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma) dan Mimpi-mimpi si Patah Hati (Sendutu Meitulan). Hihihi… pengen mengenang masa2 patah hati juga :lol: dan buku yang terakhir, ini cukup tebal (walau gak setebal ‘Taiko’), novel popnya Remy Sylado yg Boulevard de Clichy. Gara2 baca bbrp halamannya, seru menurutku! :) Tapi 620 halaman! Bukunya yg laen yg aku punya: Menunggu Matahari Melbourne. Ini juga seru, endingnya tak terduga :lol: